Aliansi Ormas Pendiri Golkar Dukung Airlangga Kembali Menjadi Ketum

Aliansi Ormas Pendiri Golkar Dukung Airlangga Kembali Menjadi Ketum
‎Aliansi konstituen pemilih dan kader Organisasi Massa (Ormas) Tri Karya (Pendiri) Partai Golkar (PG) yang terdiri atas Kosgoro 1957, MKGR dan Soksi menggelar unjuk rasa di depan kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PG, Jalan Anggrek Neli, kawasan Slipi, Jakarta Pusat, Senin, 16 September 2019. ( Foto: Beritasatu.com/Robertus Wardi )
Robertus Wardi / CAH Senin, 16 September 2019 | 16:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - ‎Aliansi konstituen pemilih dan kader Organisasi Massa (Ormas) Tri Karya (Pendiri) Partai Golkar (PG) yang terdiri atas Kosgoro 1957, MKGR dan Soksi mendukung agar Airlangga Hartarto kembali menjadi Ketua Umum (Ketum) periode 2019-2024. Aliansi berpandangan Airlangga telah sukses memimpin Golkar dalam jangka waktu 15 bulan kepemimpinan.

"Kami mendesak pimpinan Ormas Tri Karya untuk mendukung dan memilih kembali Airlangga sebagai Ketum," kata perwakilan Ormas Pendiri dari unsur Kosgoro 1957 Laras Suciyanto dalam aksi unjukrasa di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PG, Jalan Anggrek Neli, kawasan Slipi, Jakarta Pusat, Senin (16/9/2019).

Aksi hanya berlangsung di pinggir jalan masuk kantor DPP PG. Mereka tidak diperkenankan menggelar aksi dukungan dalam kantor DPP karena dijaga kader AMPG dan aparat kepolisian. Mereka hanya boleh menyampaikan pernyataan sikap tepat di pagar kantor.
Yanto menjelaskan ‎Airlangga layak pimpin kembali Golkar karena berhasil membawa Golkar peraih kursi kedua di parlemen.

Airlangga juga berhasil memenangkan pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin pada Pemilu Presiden tanggal 17 April 2019 lalu.

"Bapak Airlangga layak diberi kesempatan kembali memimpin Golkar," tegas Yanto.

Perwakilan dari Soksi Gunawan mengemukakan Airlangga berhasil menyelamatkan Golkar dari turbulensi yang hebat. Dalam lima tahun terakhir, Golkar telah berganti pimpinan empat kali. Kondisi itu mempengaruhi soliditas dan kerja partai. Ditambah lagi dengan Setya Novanto turun dari Ketum karena tersangkut kasus hukum. Sejumlah kader Golkar lain juga terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) dari KPK‎ dan terjadi menjelang Pemilu.

"Dengan waktu yang terbatas, kurang dari 15 bulan, di saat berbagai hasil survei menunjukkan Golkar tinggal 6-7 persen, hasil akhirnya terbalik. Golkar berhasil di atas 12 persen dan meraih 85 kursi di DPR pusat. Ini sebuah prestasi yang harus dilanjutkan," ujar Gunawan. 



Sumber: Suara Pembaruan