Rizal Ramli: Jokowi Bisa Membalikkan Situasi di Masa "Pancaroba"

Rizal Ramli: Jokowi Bisa Membalikkan Situasi di Masa
Rizal Ramli ( Foto: Suara Pembaruan / Stefy Thenu )
Asni Ovier / AO Kamis, 26 September 2019 | 16:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Unjuk rasa menentang kebijakan pemerintah dan berbagai rancangan undang-undang yang semakin meluas belakangan ini menunjukkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tengah mengalami krisis kepercayaan (defisit trust). Namun, hal itu masih bisa diatasi apabila mantan Gubernur DKI Jakarta itu mampu membalikkan situasi dengan membangun kredibilitas, sehingga mampu mengembalikan kepercayaan publik, dan dapat menunjukkan keberpihakannya tegas pada rakyat

"Untuk mengembalikan kondisi menjadi kondusif, saya gunakan istilah 'Trisula', yakni, kredibilitas, trust, dan keberpihakan. Pak Jokowi masih ada kesempatan untuk menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang peduli pada rakyat kalau ia mampu memperlihatkan kredibilitasnya, sehingga ia dapat kembali dipercaya masyarakat dengan membuktikan kebijakan yang dibuatnya secara nyata memang berpihak pada rakyat," ujar tokoh nasional, Rizal Ramli, di Jakarta, Kamis (26/9/2019).

Kredibilitas, menurut mantan Menko Ekuin era pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu adalah sikap Presiden Jokowi yang tegas dalam menindak para bawahannya yang telah mengkhianati rakyat.

"Selama ini, kredibitas Pak Jokowi rusak sebagian besar akibat ulah para orang disekitarnya. Sikap orang-orang di sekitarnya telah mendegradasi Jokowi, karena terlalu mengutamakan kepentingan bisnis dan kelompoknya ketimbang kepentingan rakyat banyak," tutur mantan anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu.

Rizal Ramli mmencontohkan, dalam bidang hukum, kredibilitas Jokowi rusak akibat adanya pejabat yang mempermainkan hukum demi kepentingan dirinya atau membela kelompoknya. "Kita bisa melihat banyak kasus hukum yang mandek karena terkait dengan kepentingan dari kelompok politik di sekitar Pak Jokowi," tutur Rizal Ramli.

Dalam bidang ekonomi, menurut Rizal Ramli, Jokowi harus tegas menolak masukan dari para bawahannya yang membela kepentingan asing dan sibuk mengutamakan kepentingan bisnisnya.

Selanjutnya, sambung Rizal Ramli, dalam bidang politik, Presiden Jokowi harus peka terhadap keresahan masyarakat, seperti dalam kasus rasisme Papua. Presiden Jokowi harus mengintruksikan secara tegas pada aparat keamanan untuk fokus mentuntaskan persoalan rasisme, bukan menangkapi para demontran yang menuntut keadilan dan penegakan hukum.

"Akar persoalan Papua sebenarnya rasisme. Jadi, aparat keamanan harus menuntaskan persoalan itu. Ingat, Indonesia itu ada karena kebinekaan dan konstitusi kita secara tegas menolak rasisme," tukas Rizal Ramli.

Jika Presiden Jokowi mampu memperbaiki kredibilitasnya, Rizal Ramli memastikan, kepercayaan publik akan pulih kembali. "Sebagai pemimpin, Jokowi harus bisa menunjukkan kredibilitasnya supaya kepercayaan masyarakat kepada Jokowi bisa pulih kembali," tukas Rizal Ramli.

Selain itu, sambung Rizal Ramli, Presiden Jokowi juga harus peka terhadap penderitaan dan perasaan rakyat. "Kebijakan Jokowi harus berpihak pada rakyat banyak. Misalnya, tidak menaikan iuran BPJS dan menolak kenaikan tarif dasar listrik," kata Rizal Ramli yang juga tokoh Gerakan Antikebodohan itu.

Untuk itu, Rizal Ramli menyarankan Jokowi agar kembali untuk sungguh-sungguh menjalankan Trisakti, bukan hanya sebagai slogan dan pidato. Trisakti Bung Karno yang harus dijalankan, yang keberpihakannya pada rakyat sangat jelas.

"Kalau Jokowi mau selamat, harus ada perbaikin arah supaya ada surplus dengan kebijakan yang semakin prorakyat sesuai Trisakti. Jangan selalu kasih karpet merah untuk Tiongkok, karena dalam Trisakti Bung Karno sudah jelas bahwa Indonesia harus berdikari secara ekonomi. Itu kan yang pernah terucap dari mulut Pak Jokowi sendiri saat 2014 silam. Kalau ucapan dan tindakan tidak selaras, ya, wassalam," ujar Rizal Ramli.



Sumber: Suara Pembaruan