Bamsoet Ketua MPR, Langkah Airlangga Pertahankan Ketum Golkar Mulus

Bamsoet Ketua MPR, Langkah Airlangga Pertahankan Ketum Golkar Mulus
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Jumat (4/10/2019). ( Foto: suara pembaruan / Edi Hardum )
Yudo Dahono / YUD Rabu, 9 Oktober 2019 | 17:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Partai Golongan Karya (Golkar) yang pada bulan Desember 2019 mendatang akan melaksanakan musyawarah nasional (Munas) kini telah mendamaikan dua perseturuan para bakal calon ketua umum. Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo, kini tidak lagi berkompetisi, melainkan saling mendukung satu sama lain.

Pria yang akrab disapa Bamsoet itu kini telah duduk sebagai Ketua MPR RI. Dukungan didapat dari Ketua Umum Airlangga yang melakukan konsolidasi hampir kepada seluruh fraksi. Setelah paripurna pemilihan Bamsoet juga memberikan dukungannya kepada Airlangga yang akan maju kembali sebagai ketua umum Partai Golkar periode 2019-2024.

Sebelumnya, tersiar kabar bahwa saling dukung-mendukung antara Airlangga dan Bamsoet merupakan sebuah kesepakatan bagi-bagi jabatan.

Menurut Fadel Muhamad terpilihnya Bamsoet menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Periode 2019-20124, dinilai akan meredakan konflik internal dalam tubuh Partai Golkar. Hal ini memang menjadi masalah pelik yang terjadi selama ini.

Menurut Fadel, ketika Bamsoet menjadi Ketua MPR, Airlangga akhirnya melenggang di Munas Golkar. Ini juga menjadi buah deal politik dengan Airlangga, agar dia dapat memertahankan jabatannya sebagai ketua umum Golkar.

"Ya betul arahnya kesana, supaya tidak ada konflik internal. Seperti biasa ini kan proses," ucap Fadel, Rabu (9/10/2019).

Fadel juga berharap saat Airlangga menjabat kembali kursi ketua umum Golkar nanti, citra partai berlambang beringin ini bisa kembali baik. Semuanya juga dapat mendukung kinerja Golkar sampai pada masa pemilu berikutnya.

"Harapannya bagus, Insya Allah semua baik. Golkar menyatu untuk mendukung mereka," ujarnya.

Namun Ketua DPP Partai Golkar Dito Ariotedjo menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan yang terjadi antara keduanya, dan dari pihak Bamsoet yang memiliki kesadaran penuh memberikan dukungan kepada Airlangga.

“Setahu saya bukan tukar jabatan yah, itu kesadaran (Bamsoet) sendiri,” katanya

Pria yang akrab disapa Dito itu kemudian melihat hasil konsolidasi internal partai tentang membahas masa depan Partai Golkar kedepan. Dengan dukungan yang diberikan Bamsoet, Dito mengapresiasi mantan Ketua DPR RI itu sehingga bisa memuluskan jalan Airlangga sebagai ketua umum partai.

“Peluang Airlangga terlihat semakin mulus untuk kembali menjabat ketua umum Golkar, terlebih sejak bersatunya pak Bamsoet bersama pak Airlangga Hartarto. Semoga sampai Munas kekompakan dan kesolidan ini terjaga. Agar lebih siap menghadapi tantangan Golkar ke depan,” ujar Dito.

Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandez menyambut baik konsolidasi internal Partai Golkar. Apalagi setelah adanya dukungan dari Airlangga kepada Bamsoet untuk maju sebagai Ketua MPR RI, menjadikan jalan mulus bagi Airlangga di Munas ke depan.

“Nah tentu sekarang kalau kita lihat, posisi Airlangga seperti di atas angin di Munas,”kata Arya.

“Terutama tadi, setelah kesepakatan kedua tadi. Tapi saat ini belum muncul tokoh lain yang mau bertarung secara terbuka dengan Airlangga. Kalau Bamsoet menyatakan mundur dan meminta proses aklamasi dilakukan, tentu akan mudah sekali bagi Airlangga untuk menang,” sambungnya.

Tapi dia memberikan catatan, dalam sejarah Partai Golkar pasca reformasi dinamika menjelang Munas adalah hal yang biasa terjadi. Misalnya, saat Surya Paloh pernah berhadapan dengan Aburizal Bakrie, lalu ada Jusuf Kalla berhadapan dengan Akbar Tandjung. Arya mengatakan Airlangga jangan senang dahulu karena bisa jadi ada kandidat lain yang bisa muncul kemudian.

“Golkar kan identik dengan kompetisi internal dan menurut saya dengan dinamika internal yang tinggi kemudian dengan karakter partai sebagai partai yang mengedepankan internal dan mengedepankan demokratisasi internal. Artinya calon kuda hitam itu ada potensinya. Kompetisi di Golkar itu tinggi,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com