Ketua MPR: Teroris Tidak Pantas Disebut Orang Beragama

Ketua MPR: Teroris Tidak Pantas Disebut Orang Beragama
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bersama Ketua MPR Bambang Soesatyo dan Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin saat meresmikan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jakarta, Jumat (11/10/19). ( Foto: Dok )
Yustinus Paat / Hotman Siregar / WBP Jumat, 11 Oktober 2019 | 19:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengutuk keras tindakan radikal dan paham terorisme yang seringkali berlindung di balik ajaran agama. Padahal, semua ajaran agama pada prinsipnya selalu mengajarkan cinta, kasih sayang, dan kebajikan, bukan mengajarkan teror maupun tindakan yang berujung membahayakan nyawa manusia.

"Sejatinya para teroris tidak mempunyai agama dan tidak pantas disebut sebagai orang beragama. Mereka seringkali memperoleh informasi sesat tentang ajaran agama dari berbagai media sosial maupun forum-forum tertutup. Inilah tugas besar sekaligus tantangan para pemuka dan tokoh agama, serta para cendikiawan untuk terus menyebarkan ajaran agama yang sesungguhnya, agama yang menyejukan, yang penuh dengan nilai-nilai kebajikan," ujar Bamsoet saat menghadiri peresmian Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, di Jakarta, Jumat (11/10/19).

Turut hadir dalam acara itu Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin.

Melihat penyebaran Islam di Indonesia, Bamsoet secara khusus turut mengapresiasi kegiatan dakwah organisasi kemasyarakatan Hidayatullah yang telah menyebarkan Islam dengan penuh cinta dan kasih sayang. Sejak 7 Januari 1972 hingga kini, Hidayatullah yang dirintis ustaz Abdullah Said, terus melebarkan kegiatan sosial keagamaannya. Bukan hanya melalui lembaga formal pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, melainkan juga dakwah secara langsung oleh para da'i yang tersebar di sekitar 352 DPD Hidayatullah di berbagai wilayah Indonesia.

"Kini Hidayatullah, sebagaimana juga organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang sosial keagamaan lainnya, menghadapi tantangan disrupsi informasi teknologi. Disrupsi tersebut seperti dua sisi keping mata uang. Di satu sisi membawa keuntungan, di sisi lainnya jika tidak disikapi dengan bijak akan merugikan," tutur Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menjelaskan, akibat industri 4.0, masyarakat jadi sangat bergantung kepada teknologi informasi seperti media sosial. Karena itu, Hidayatullah harus mampu mengembangkan dakwahnya melalui media sosial, sehingga ekosistem media sosial Indonesia dilimpahi arus informasi keagamaan yang menyejukan. Bukan dibanjiri arus informasi keagamaan yang menyesatkan serta bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.



Sumber: BeritaSatu.com