Gerindra Dinilai Lebih Berpeluang Masuk Kabinet Dibanding Demokrat

Gerindra Dinilai Lebih Berpeluang Masuk Kabinet Dibanding Demokrat
Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, memberikan keterangan pers usai pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat 11 Oktober 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Yustinus Paat / JAS Sabtu, 12 Oktober 2019 | 19:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat Politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedillah Badrun menilai Partai Gerindra lebih berpeluang masuk kabinet Jokowi dibandingkan Partai Demokrat. Menurut Ubedillah, PDIP sebagai pemimpin koalisi Jokowi memiliki kedekatan substansial dengan Partai Gerindra.

"Pertama, PDIP dan Gerindra pernah maju bersama di Pemilu 2009 ketika memasangkan Bu Megawati Soekarnoputri dengan Pak Prabowo Subianto," ujar Ubedillah dalam diskusi bertajuk "Dinamika Politik Jelang Penyusunan Kabinet" di Gado-Gado Boplo, Jalan Cikini Raya, Menteng, Jakarta, Sabtu (12/10/2019).

Kedua, kata dia, PDIP dan Gerindra mempunyai agenda dan warna politik yang hampir sama, yakni corak ideologi nasionalis. Bahkan, program kedua partai relatif sama.

"Ketiga, relasi antara Megawati dan Prabowo tidak pernah meninggalkan luka. Dulu perjanjian Batu Tulis dianggap penghinaan, tetapi sudah dijelaskan sehingga bisa diterima," ungkap dia.

Hal ini, kata Ubedillah berbeda dengan Partai Demokrat di mana Megawati pernah merasa terluka oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Apalagi, sikap Partai Demokrat dinilai tidak pernah jelas.

"Ini juga terkait dinasti, di mana Dinasti Cikeas tidak mungkin akan diberi ruang," tandas dia.

Senada dengan itu, Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Gajah Mada (UGM), Nyarwi Ahmad menilai Partai Gerindra memiliki peluang besar mengisi kursi menteri Kabinet Jokowi dibandingkan Partai Demokrat. Pasalnya, Gerindra dengan jumlah kursi yang besar di parlemen, bisa mengamankan agenda politik Jokowi lima tahun ke depan.

"Dengan menarik Gerindra ke kubu Jokowi, artinya Pak Jokowi mendapat dukungan yang riil dari Gerindra. Itu dapat menjadi basis untuk amankan agenda politik selama lima tahun ke depan," kata Nyarwi.

Apalagi, lanjut Nyarwi, gaya komunikasi Prabowo dengan Jokowi lebih cair dibandingkan gaya komunikasi SBY saat bertemu Jokowi. Diketahui, SBY bertemu Jokowi di Istana Negara Jakarta pada Kamis (10/10/2019). Sehari setelahnya, Jumat, Prabowo bertemu Jokowi di Istana.

"Saya mendapat indikasi dari dua peristiwa itu. Pertama daya tarik Gerindra untuk susunan koalisi ini sangat tinggi. Artinya Gerindra dibutuhkan untuk memperkuat koalisi pemerintahan Jokowi mendatang. Sementara, daya tarik Demokrat masih belum terlalu kuat," pungkas Nyarwi.



Sumber: BeritaSatu.com