"Barisan Sakit Hati" Disarankan Periksa ke Psikiater

Diskusi Jaringan Aktivis Nusantara dan Garda Nawacita bertajuk "Demokrasi yang Beradab" di Apollo Cafe, Hotel Ibis Cikini Menteng Jakarta Pusat, Selasa (15/10/2019). ( Foto: Ist )
Yustinus Paat / FMB Selasa, 15 Oktober 2019 | 20:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat Intelijen Stanislaus Riyanta menyebut gerakan aksi demonstrasi yang berujung kebrutalan memiliki tujuan ingin mengganggu pemerintah. Bahkan, kata Stanislaus, ujung-ujungnya memiliki niatan jahat yakni menurunkan Presiden Jokowi.

"Jadi kemarin (aksi brutal) itu tidak ada faktor tunggal tetapi mengganggu pemerintah. Ujung- ujungnya turunkan Jokowi," ujar Stanislaus dalam diskusi publik bertema "Demokrasi yang Beradab" yang diinisiasi Jaringan Aktivis Nusantara dan Garda Nawacita di Apollo Cafe, Hotel Ibis Cikini Menteng Jakarta Pusat, Selasa (15/10/2019).

Unjuk Rasa Rusuh, 380 Orang Ditetapkan Tersangka

Menurut Stanislaus, demo yang dilakukan beberapa kelompok memiliki aspirasi yang berbeda-beda dan ada juga kelompok yang ikut-ikutan. Bahkan, kata dia, ada kelompok yang dipersiapkan untuk kerusuhan.

Stanislaus menilai situasi tersebut sangat rawan berpotensi menjadi celah masuknya ancaman yang sangat besar dan dimanfaatkan oleh kelompok yang tidak suka dengan pemerintah.

"Lihat saja, jangankan mahasiswa, dosen saja ditangkap karena menyiapkan bom molotov. Ada barisan sakit hati yang menungganginya sehingga perlu diperiksa ke psikiater, untuk memastikan ada gangguan jiwa atau tidak," ungkap dia.

Kasus Dosen IPB, Polri: Itu Bom, Bukan Molotov

Hal senada juga dikemukakan Ketua Presidium Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (JARI 98) Willy Prakarsa agar barisan sakit hati yang berusaha menunggangi aksi mahasiswa untuk membuat kerusuhan segera memeriksakan dirinya ke psikiater.

"Iya setuju, supaya diperiksa kejiwaannya," ucap Willy.

Dia menuding ada jaringan yang masih belum bisa menerima kenyataan dan belum bisa legawa untuk berdemokrasi dengan baik sehingga tidak ingin Indonesia damai.

"Ada yang tidak menerima kenyataan dan belum bisa legawa," tambah Willy lagi.

Ditempat yang sama, Mantan Presma Jayabaya Ismail Marasabessy sepakat bahwa ada pihak-pihak yang masih belum dewasa dalam berpolitik dan disarankan untuk datang berobat kejiawaannya.

"Sepakat sekali ada baiknya mereka yang masih belum dewasa dalam berpolitik segera datang cek kejiwaan," sebut Ismail.

Ismail meminta agar mahasiswa maupun pelajar yang ingin turun ke jalan benar-benar teliti dengan melakukan kajian secara matang.

"Kaji secara matang agar memahami benar aspirasi yang disuarakan. Kita sudah mempunyai pemimpin yang baru dan bagi yang sakit hati dendam, bisalah bertarung di periode 2024," pungkasnya.