BPIP: Lawan Intoleransi dengan Menghabituasi Nilai-nilai Pancasila

BPIP: Lawan Intoleransi dengan Menghabituasi Nilai-nilai Pancasila
SP/Ruht Semiono Romo antonius Benny Susetyo ( Foto: suara pembaruan / Ruht Semiono )
Yustinus Paat / AO Senin, 21 Oktober 2019 | 05:34 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo mengingatkan bangsa Indonesia akan banyak tawaran ideologi radikal. Bahkan, kata Romo Benny, ideologi radikal ini menawarkan janji-janji surga dengan mudah.

"Sekarang ini banyak yang menawarkan ideologi radikal yang memberikan janji masuk surga dengan mudah dengan cara-cara yang anarkis. Hal ini sangat berbahaya dan harus dilawan dengan penguatan ideologi," ujar Benny dalam seminar Extension Course Filsafat (ECF) bertajuk "Pancasila sebagai Kekuatan Pembebas" di Universitas Parahyangan, Bandung, Minggu (20/10/2019). Acara yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan ini dihadiri para dosen dan mahasiswa.

Masyarakat Indonesia, kata Benny, tidak boleh diam dalam menghadapi gerakan dan ideologi radikal. Menurut dia, intoleransi dan ideologi radikal ini harus dilawan dengan menerapkan dan menghabituasi nilai-nilai Pancasila yang di dalamnya mementingkan unsur keadilan dan keberadaban.

"Yang terpenting, dalam menghadapi semua permasalahan ini adalah menerapkan dan menghabituasi nilai-nilai Pancasila. Orang yang berkeadaban yang tidak memaksakan apa yang dianggap benar oleh kelompoknya sendiri. Berkebudayaaan yang mempunyai adab dan menjunjung tinggi kemanusiaan," ujarnya.

Dia juga menegaskan bahwa perbedaan adalah fitrah. Karena itu, pemahaman dan penghabituasian nilai-nilai Pancasila sangat penting bagi semua lapisan masyarakat dan disesuaikan cara pemahamannya dengan era milenial sekarang ini.

"Tantangannya adalah bagaimana pemahaman Pancasila ini diajarkan dengan menggunakan konsep kekinian ini yang harus dikemas dalam dunia milenial. Tentunya yan bukan membuat mereka takut karena terlalu filosifis, tetapi dengan sesuatu yang bisa direalisasikan," ujar dia.

Lebih lanjut, Benny mengatakan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak boleh ada diskriminasi. "Dalam praktiknya tidak boleh ada diskirmnasi kepada keyakinan yang lain. Tidak boleh ada kekerasan dan memaksakan kehendak karena adanya perbedaan keyakinan," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan