Kader dan Pengurus PKS Diminta Tak Komentari Langkah Politik Pihak Lain Soal Kabinet

Kader dan Pengurus PKS Diminta Tak Komentari Langkah Politik Pihak Lain Soal Kabinet
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman. ( Foto: Antara / Reno Esnir )
Yustinus Paat / AO Rabu, 23 Oktober 2019 | 00:06 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman meminta seluruh fungsionaris DPP, fraksi DPR, fraksi di MPR, dan seluruh kader tidak mengomentari langkah politik pihak lain dalam penyusunan kabinet. Menurut Sohibul, yang perlu dilakukan sekarang adalah sosialisasi sikap politik PKS yang berada di luar pemerintahan.

"Kami minta seluruh fungsionaris DPP, fraksi di DPR dan MPR serta seluruh kader untuk fokus menyosialisasikan sikap politik PKS yaitu tetap berada di luar pemerintahan. Kami mengimbau kepada seluruh anggota keluarga besar PKS agar tidak tergoda atau terjebak mengomentari langkah-langkah politik pihak lain," ujar Sohibul dalam Maklumat Presiden PKS menyikapi persoalan pembentukan kabinet Jokowi yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Selasa (22/10/2019).

PKS, kata Sohibul, menghormati langkah politik pihak lain termasuk sikap parpol lain dalam penyusunan kabinet. PKS menghormati kemandirian dan independensi masing-masing parpol.

"PKS menghormati sikap politik pihak lain, dan semoga pihak lain pun menghormati sikap politik PKS. Hal tersebut sebagai cermin kedewasaan kita dalam hidup berdemokrasi," tandas Sohibul.

Terkait sikap politik PKS yang di luar pemerintahan, lanjut Sohibul, harus disampaikan secara tegas dan jelas. Namun, kata dia tidak dengan konotasi arogan apalagi seolah menantang untuk beroposisi sendirian.

"Sampaikan dengan objektif, argumentatif, namun tetap rendah hati. Ketahuilah ini memang bukan pilihan ideal, bahkan pilihan berat. Namun, di tengah partai-partai lain memilih bergabung dalam pemerintahan, PKS merasa bertanggung jawab untuk menjaga muruah demokrasi yang sudah menjadi pilihan jalan politik PKS dan juga bangsa ini, dengan memilih tetap di luar pemerintahan," kata Sohibul.



Sumber: Suara Pembaruan