Mahfud Butuh Satu Minggu Mengenal Polhukam

Mahfud Butuh Satu Minggu Mengenal Polhukam
Mahfud MD. ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao )
Robertus Wardi / YUD Rabu, 23 Oktober 2019 | 17:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menko Polhukam Mahfud MD menyatakan butuh waktu satu minggu untuk mengenal dan mengetahui ritme kerja di Kemko Polhukam. Setelah itu, dia akan bekerja cepat dan segera seperti diminta Presiden Jokowi.

"Saya masih baru di sini. Ketika saya dulu Menteri Pertahanan (Menhan), saya sering dulu rapat di tempat ini (Polhukam, Red). Untuk tempat, saya bisa menyesuaikan diri tapi uuntuk orang per orang, saya secepatnya besok akan ketemu pejabat utama dulu untuk mendengar apa yang mereka pikirkan tentang tugas mereka," kata Mahfud saat serah terima jabatan di Kemko Polhukam, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Ia menegaskan pada malam ini, dia akan membaca semua apa yang telah dilakukan selama Wiranto memimpin Polhukam. Kemudian melihat mana yang belum selesai sehingga perlu dilanjutkan.

"Nanti malam, saya akan baca ini semua, lalu kita saling mencocokkan ritme kemana kita melihat pandangan, persepsi, keinginan dan potensi yang bapak (Wiranto) miliki untuk melakukan tugas dengan apa yang saya pikirkan. Setelah mendengar dan membaca, saya kira Minggu ini harus selesai," tuturnya.

Dia gembira karena pokok-pokok yang terkait tugasnya telah disampaikan Wiranto kepadanya. Dia akan sinkronkan dengan tekad dan keinginan Presiden Jokowi yang diberikan padanya.

"Tadi malam saya dapat pesan dari Jenderal (Purn) Hendropriyono (mantan Kepala BIN). Begini bunyinya, saya sangat bangga adinda Mahfud MD adalah orang sipil murni pertama yang menjadi Menkopolhukam di dalam sejarah Republik Indonesia. Saya baru tahu tadi malam bahwa saya orang pertama. Dari Pak Hendropriyono bahwa saya orang sipil pertama yang memimpin Kementerian ini. Alhamdulillah saya sudah punya bekal menjadi Menhan," ungkapnya.

Dia mengaku dulunya dia kagum dengan Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono, Sudrajat. Dia tidak menyangka banyak tentara yang pintar karena semasa mahasiswa, dia takut dengan tentara.

"Dulu waktu zaman Orde Baru, saya adalah mahasiswa dan dosen muda, takut sama tentara. Tapi ada beberapa tentara yang saya kagumi. Saya terus terang mengagumi Pak Wiranto, Pak SBY, Pak Sudrajat, Pak Sarwan Hamid itu. Ternyata banyak, ada jenderal yang pintar-pintar begitu. Gambaran orang di zaman Orde Baru, kalau tentara tuh kasar. Tapi Pak Wiranto itu orangnya pintar. Ketika dia jadi Panglima, ketika jadi menteri, Pak Sudrajat juga, Pak SBY juga, Pak Sarwan Hamid juga dan demokratis juga," tutup Mahfud.



Sumber: Suara Pembaruan