Mendagri Tito Ingatkan Pentingnya Menjaga Stabilitas Politik

Mendagri Tito Ingatkan Pentingnya Menjaga Stabilitas Politik
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (berdiri), saat diperkenalkan Presiden Joko Widodo dalam pengenalan menteri kabinet Indonnesia Maju di depan tangga Istana Merdeka, Jakarta, Rabu 23 Oktober 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao )
Carlos KY Paath / FMB Kamis, 24 Oktober 2019 | 10:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Kabinet Indonesia Maju (KIM) telah terbentuk. Kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin dapat memengaruhi konstelasi politik nasional dan daerah.

“Ini situasi yang baru tentu akan memengaruhi pada konstelasi politik nasional dan daerah. Dalam segala kebijakan-kebijakan pengembangan, improvisasi dari para pimpinan kementerian, atau lembaga yang baru,” kata Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Hal itu disampaikan Tito saat apel jajaran Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) di halaman Kemdagri, Jakarta, Kamis (24/10/2019).

“Ini harus kita imbangi, karena kalau terjadi goncangan politik, pasti akan berdampak pada stabilitas keamanan dalam negeri, politik hukum dan keamanan saling terkait. Terutama goncangan yang berasal dari politik dan ideologi, ini akan berdampak luas,” ucap Tito.

Menurut Tito, hal menyangkut ideologi apabila sudah masuk ke ranah politik identitas akan berdampak luas. “Power struggle, pertarungan kekuasaan, tingkat pusat sampai ke desa pun bisa membuat polarisasi yang menimbulkan perpecahan, potensi konflik,” imbuh mantan kapolri tersebut.

Tito menegaskan, Kemdagri sebagai pembina pemerintah daerah sepatutnya menyelaraskan kebijakan pusat dengan daerah. Kemdagri pun berkewajiban untuk mengetahui kebijakan kementerian lain yang berpotensi berdampak terhadap stabilitas politik.

“Salah satu yang terpenting pengaruhnya adalah stabilitas politik yang menjadi tugas pokok Kemdagri. Jadi saya minta kita tidak terjebak rutinitas menghadiri apel, setelah itu kita mengerjakan seperti biasa, itu sudah akan dilaksanakan,” tegas Tito.



Sumber: Suara Pembaruan