Soal Radikalisme, Gus Yaqut: Tugas Ansor Kini Ringan

Soal Radikalisme, Gus Yaqut: Tugas Ansor Kini Ringan
Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas ( Foto: istimewa )
Yustinus Paat / YUD Jumat, 25 Oktober 2019 | 17:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Penyusunan kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin selesai sudah, setelah dilakukannya pelantikan wakil menteri untuk beberapa kementerian. Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas memberi apresiasi atas kabinet Jokowi tersebut.

Yaqut memberikan apresiasi kepada Presiden Jokowi yang memberikan penekanan dan perhatian serius terhadap masalah berkembangnya radikalisme di masyarakat, khususnya di beberapa institusi pemerintah.

“Presiden Jokowi saya lihat serius untuk mengatasi berkembangnya radikalisme atau merebaknya ideologi radikal. Ini terlihat dengan ditugaskannya secara khusus Menko Polhukam, Menhan, Mendagri dan Menag untuk ikut menangani masalah radikalisme di masyarakat, khususnya di lingkup kementerian masing-masing,” kata Gus Yaqut, sapaan akrabnya, Jumat (25/10/2019).

Menurut Gus Yaqut, pihaknya berterima kasih pemerintah terlihat serius menangani masalah radikalisme yang kondisinya sudah sangat mencemaskan. Hal ini, lanjutnya, memang sudah semestinya dilakukan pemerintah.

“Tugas Ansor jadi ringan sekarang karena pemerintah akan serius menangani masalah radikalisme. Jika selama ini Ansor dan Banser ikut terjun menghadapi kelompok radikalis dan intoleran karena merasa negara tidak serius hadir. Karena negara sudah memastikan menangani serius masalah ini, maka tugas kami kini menjadi ringan. Sekarang waktu kami banyak untuk melakukan penguatan internal, melakukan konsolidasi, memperkuat kaderisasi, dan melakukan upaya-upaya kemandirian organisasi,” jelas Gus Yaqut.

Untuk merespons hal itu, kata Gus Yaqut, dalam waktu dekat ini pihaknya akan menggelar rapat koordinasi nasional (Rakornas) yang akan dihadiri pimpinan GP Ansor seluruh Indonesia. Rakornas diadakan sebagai langkah konsolidasi, penguatan kaderisasi, dan kemandirian organisasi.

“Saya meminta kini saatnya kembali melakukan konsolidasi, kaderisasi, dan mempercepat kemandirian organisasi. Terkait kemandirian organisasi, misalnya, saya mendorong semua kader Ansor di seluruh Indonesia untuk melakukan berbagai usaha pengembangan ekonomi kader. Pengembangan ekonomi kader ini sesuai dengan visi misi Ansor terkait kemandirian organisasi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, NU memiliki tiga pilar, yaitu Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Nasional), Taswirul Afkar (artikulasi pemikiran), dan Nahdlatul Tujjar (kebangkitan saudagar/ekonomi). Terkait dengan Nahdlatul Wathan, kata dia, tanpa harus bicara NKRI Harga Mati, di dalam dada dan kesadaran hal itu sudah ada di seluruh kader. Sedangkan untuk Taswirul Afkar, lanjutnya, keluarga besar NU sudah banyak melahirkan pemikir atau cendikiawan.

“Nah, sayangnya, pilar ketiga yakni Nahdlatul Tujjar yang masih belum digarap serius. NU masih minim pengusaha. Inilah yang tengah serius digarap Ansor. Kita masih berusaha melahirkan pengusaha-pengusaha yang asli dari NU, dalam konteks ini yang lahir dari Ansor,” katanya.

Sebab itulah pihaknya mendorong kader Ansor di seluruh Indonesia mengembangkan diri, berkarya dalam menciptakan peluang-peluang usaha, mencetak pengusaha. Caranya, jelas Gus Yaqut, dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) kader Ansor melalui pengembangan program ekonomi.



Sumber: BeritaSatu.com