John Palinggi: KIM Lahirkan Optimisme Indonesia Lebih Sejahtera

John Palinggi: KIM Lahirkan Optimisme Indonesia Lebih Sejahtera
John Palinggi ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Carlos KY Paath / RSAT Sabtu, 26 Oktober 2019 | 09:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komposisi personil di Kabinet Indonesia Maju (KIM) yang baru saja dilantik, melahirkan optimisme dan harapan baru untuk Indonesia lebih maju dan masyarakatnya kian sejahtera.

Hal itu dikatakan pengamat politik dan sosial kemasyarakatan John N Palinggi di Jakarta, Jumat (24/10/2019) sore.

Menurutnya, mereka yang masuk pada KIM merupakan orang-orang pilihan yang memiliki kemampuan mumpuni, loyalitas tinggi terhadap bangsa dan negara, berkarakter kuat, serta tentunya diharapkan mampu bekerja baik dalam mewujudkan visi-misi Presiden-Wakil Presiden sebagai Pemimpin Negara.

Terkait adanya komentar “miging” penempatan pos beberapa menteri, John Palinggi menyebutkan itu penilaian yang keliru dan menyesatkan.

Penempatan Tito Karnavian sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri), sangat sesuai, selain karena pengalaman dan kesetiaan Tito sudah terbukti selama puluhan tahun mengabdikan diri bagi Bangsa dan Negara tanpa mengenal lelah dan risiko yang ditanggungnya. Tito juga memiliki kinerja yang cemerlang, dan mampu melaksanakan perintah atasan secara utuh dan tuntas.

“Saya yakin Tito mampu dan dapat melaksanakan tugasnya sesuai perintah dan arahan presiden, didukung dengan kemampuan berkomunikasi, menggerakkan sumber daya manusia Kemdagri untuk mencapai target yang telah ditentukan seperti membereskan hambatan perizinan, dan gangguan investasi yang selama ini menjadi masalah besar,” tegasnya.

Begitu juga Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menurut John sangat cocok. Karena arah pemerintahan Jokowi-Ma'ruf bukan saja menciptakan manusia Indonesia yang unggul, tapi juga memiliki daya kreasi dan inisiatif yang tinggi untuk berprestasi setelah menyelesaikan pendidikannya, berakhlak, dan memiliki budaya tidak mengenal menyerah.

Menurutnya kurikulum pendidikan harus mampu menjawab tantangan dan target yang dimaksud yakni, manusia yang memiliki kecerdasan, akhlak yang baik, serta terampil melaksanakan tugasnya.

"Saya yakin mampu diwujudkan oleh Menteri Nadiem Makarim. Sebaiknya penciptaan keterampilan untuk dapat bekerja di berbagai instansi pemerintah atau BUMN dapat diintegrasikan kedalam kurikulum di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan tidak perlu seluruh instansi pemerintah memiliki sekolah dan universitas sendiri," katanya.

Sementara masuknya Prabowo Subianto di jajaran KIM. Bagi John, ini sebuah pembuktian dari sifat kenegarawanan Jokowi yang mau merangkul kompetitor politiknya untuk bersama-sama membangun bangsa ini.

Selain itu, sikap Prabowo yang menerima tawaran Jokowi untuk duduk dalam KIM merupakan bentuk spirit kenegarawanan yang tinggi.

"Warga negara atau tokoh masyarakat yang senang memelihara perseteruan, sengketa, bahkan permusuhan terus-menerus dapat menjadi ancaman paling berbahaya bagi Bangsa dan Negara, terutama bagi umat manusia dan sekaligus gagal melaksanakan perintah agamanya," tandas John.

Menurut John, Jokowi dan Prabowo telah melalui kompetisi Pilpres yang sangat berat. Kini, saatnya mereka berdua bersatu, bergandengan tangan membangun bangsa ini.

“Jika pemikiran dari kedua tokoh bangsa ini disatukan akan melahirkan langkah konkrit yang akan membawa kemajuan bagi bangsa," ujar John.

Untuk dia mengajak masyarakat untuk meneladani sikap kenegarawanan kedua tokoh bangsa (Jokowi dan Prabowo-red). "Pertandingan telah usai. Sekarang saatnya bersama bahu-membahu membangun bangsa ini. Orientasi kita sekarang bukan lagi soal memenangkan calon, tapi bagaimana menyatukan kekuatan guna membangun negara," tukas John.

John juga meminta, rakyat Indonesia untuk selalu menghormati dan menghargai pemimpin. "Jangan mudah menghina atau mencaci-maki pemimpin. Itu sangat tidak baik. Kita harus yakini, pemimpin itu merupakan pilihan Tuhan yang akan berjuang sekuat tenaga menciptakan kesejahteraan terhadap rakyat yang dipimpinnya," pungkas John.

 



Sumber: Suara Pembaruan