Pemuda Diminta Terus Gelorakan Semangat Pancasila dan Sumpah Pemuda

Pemuda Diminta Terus Gelorakan Semangat Pancasila dan Sumpah Pemuda
Seminar kepemudaan yang digelar Banteng Muda Indonesia (BMI) dengan tema "Pemuda yang Berjati Diri Indonesia" di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Senin, 28 Oktober 2019. (Foto: Istimewa)
Asni Ovier / AO Selasa, 29 Oktober 2019 | 07:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemuda Indonesia diminta untuk terus menggelorakan Pancasila dalam sendi kehidupan sehari-hari. Para pemuda juga harus menjaga semangat persatuan sebagai modal membangkitkan kepercayaan diri. Pancasila dan pemahaman tentang Sumpah Pemuda dianggap sebagai solusi membangkitkan kepercayaan diri.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Indra Kramadipa mengatakan, berdasarkan sejarah, tokoh-tokoh Sumpah Pemuda, seperti Mohammad Yamin dan Amir Sjarifoeddin, dikenal sebagai anak muda yang suka hura-hura. Namun, Indra mengatakan, ketika berbicara bangsa, keduanya mampu membangun fondasi bangsa yang menjadi modal persatuan Indonesia.

"Dia memberikan sumbangsih dengan bahasa persatuan. Saya sangat menyadari bahwa gerakan kita dengan bahasa. Sebuah negara bisa merumuskan satu bahasa yang diisi banyak etnis," kata Indra dalam seminar kepemudaan yang digelar Banteng Muda Indonesia (BMI) dengan tema "Pemuda yang Berjati Diri Indonesia" di GOR Bulungan, Jakarta, Senin (28/10/2019).

Meski demikian, Indra menilai, pemuda harus merumuskan bahasa zaman now dengan Pancasila agar diterima oleh masyarakat dunia. Hal itu untuk mengangkat kembali Pancasila yang pernah diakui dunia sebagai ideologi yang sempurna.

"Bung Karno dalam PBB mengatakan bahwa Pancasila itu diterima dunia. Ada nilai kemanusiaan, demokrasi, keadilan, ekonomi sosial dan manusia itu harus sadar bahwa dia juga berkebudayaan sejatinya harus berketuhanan. Ini sempurna sebagai pedoman," kata Indra.

Indra juga menganggap konsep semangat Sumpah Pemuda dan Pancasila sudah diterapkan di PDIP. Sebab, dia meyakini PDIP merupakan partai yang paling luas memberikan ruang kepada pemuda untuk berkreasi.

Sementara itu, sejarawan Bonny Triyana menambahkan, sekarang ini sudah saatnya pemuda membangun karakter dengan berpedoman pada Sumpah Pemuda dan Pancasila. Dua pedoman itu membuktikan bahwa pendahulu bangsa merupakan tokoh yang penuh percaya diri dan visioner.

"Membangun karakter orang Indonesia sendiri termasuk anak mudanya. Kalau pemudanya minder melihat orang asing, keder duluan. Orang minder itu betul-betul didorong oleh satu keadaan tidak punya ketidakmampuan, tidak punya pengetahuan, tidak bisa mengimbangi kemajuan," jelas Bonny.

Karena itu, lanjut Bonny, pemuda sekarang harus menghindari rasa minder tersebut. "Pemuda harus punya karakter yang berpijak pada kebudayaan, nasional Indonesia, kebudayaan daerah juga, yang orientasi Indonesia," kata Bonny.

Anggota DPRD DKI Fraksi PDIP Agustina Hermanto yang akrab disapa Tina Toon menyoroti soal pascakemerdekaan banyak pemuda tidak bersatu malah saling menghujat. Dia meminta Sumpah Pemuda itu menjadi momentum untuk bersatu dan bekerja keras untuk Indonesia.

"Anak muda yang jadi bagian Indonesia adalah anak muda yang punya semangat. Semangat berjuang, bekerja, belajar terus dan berkontribusi untuk Indonesia," kata dia.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto saat membuka seminar mengatakan, peringatan Sumpah Pemuda jangan sampai hanya menjadi slogan atau romantika sejarah semata bagi kaum milenial. Peringatan yang lahir pada 28 Oktober 1928 itu harus menjadi momentum untuk mengonsolidasi kekuatan pemuda dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar menjadi bangsa yang berkontribusi untuk dunia.

Dalam acara seminar, tampak hadir Kepala BMI Narendra Kiemas, anggota DPR Gilang Dhielafararez, Putra Nababan, dan Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi Marsudi.



Sumber: Suara Pembaruan