Masalah Intoleransi Membuat Indonesia Alami Kemunduran

Masalah Intoleransi Membuat Indonesia Alami Kemunduran
DPP Partai Nasdem mengelar dialog Selasa "Hubungan Pembangunan Nasional dan Ketahanan Nasional", Selasa (29/10/2019) di Auditorium DPP Partai Nasdem, Jakarta. ( Foto: Suara Pembaruan / Yeremia Sukoyo )
Yeremia Sukoyo / FMB Selasa, 29 Oktober 2019 | 21:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Masalah intoleransi masih menjadi salah satu penghambat upaya pembangunan nasional dan ketahanan nasional. Salah satu faktor menguatnya intoleransi adalah adanya pemahaman yang salah terkait religiusitas yang terus masuk mencampuri pemerintahan negara.

"Masih ada kelemahan pembangunan nasional menuju tercapainya national interest Indonesia. Yang paling mengemuka saat ini yaitu pembangunan manusia yang terhambat karena masalah intoleransi," kata Akademisi yang juga pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie, dalam dialog Selasa "Hubungan Pembangunan Nasional dan Ketahanan Nasional", Selasa (29/10/2019) di Auditorium DPP Partai Nasdem, Jakarta.

Menurut Connie, konsep religiusitas membawa kepentingan nasional Indonesia justru kembali ke masa lalu dan bukan ke masa depan. Salah satu ciri-cirinya adalah adanya penolakan yang demikian besar terhadap pemimpin non muslim.

Diingatkan Connie, saat ini Indonesia tidak akan mengalami perang seperti invasi pasukan langsung yang masuk ke dalam wilayah NKRI. Namun, perang yang akan dihadapi Indonesia adalah perang di media sosial.

"Perang kita ada di tangan kita, di media sosial. Ruang virtual internet sudah menjadi media perang. Di dunia ada 4 miliar orang pengguna internet. Orang dipaksa untuk berpikir, melihat dan mendengar. Ada perang informasi, ditransmisikan oleh semua media komunikasi. Kita berada di tengah situasi seperti saat ini," ujar Presiden Indonesia Institute for Maritime Studies itu.

Dirinya mengingatkan, sampai dengan saat ini masih ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang terus menebar berita bohong. Kondisi ini jika dibiarkan akan sangat berbahaya bagi kepentingan bangsa dan negara.

"Masih ada 800.000 hoax site merajalela. Hoax merajalela dengan ratusan ribu situs itu. Ini adalah kondisi yang cukup berbahaya jika dibiarkan," ucapnya.

Connie mengungkapkan, menguatnya intoleransi di Indonesia sudah menyebabkan ada sekitar 29,7 persen profesional muda yang tidak mendukung pemimpin non-Muslim dan ada sekitar 15.000 anggota TNI terbina oleh kaum radikal.

Dialog Selasa yang digelar DPP Partai Nasdem merupakan rangkaian diskusi menjelang perhelatan kongres ke II Partai Nasdem yang akan berlangsung pada 8-11 November 2019 mendatang.



Sumber: BeritaSatu.com