Din Syamsudin: Masyarakat Harapkan Rekonsiliasi Elite Politik

Din Syamsudin: Masyarakat Harapkan Rekonsiliasi Elite Politik
Centre For Dialogue And Cooperating Among Civilization (CDCC) menggelar Diskusi Publik dengan tema Rekonsiliasi Nasional: Apa, Untuk Apa, dan Bagaimana? di Jakarta, Rabu (30/10/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Yeremia Sukoyo )
Yeremia Sukoyo / FER Rabu, 30 Oktober 2019 | 23:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin, menjelaskan, rekonsiliasi diantara para tokoh maupun elite politik merupakan harapan dari seluruh masyarakat Indonesia. Dari proses politik yang sudah berlangsung lagi-lagi membuktikan bahwa rekonsiliasi merupakan jalan yang akan ditempuh jika para elite mengutamakan kepentingan bangsa.

"Rekonsiliasi adalah harapan kita semua dan ajaran agama. Politik nasional kita selama ini harus diakui telah membawa keterbelahan bangsa. Umat satu agama juga terbelah, satu organisasi pun terbelah. Namun proses politik telah selesai dengan adanya pelantikan presiden," kata Din Syamsuddin, dalam Diskusi Publik bertema Rekonsiliasi Nasional: Apa, Untuk Apa, dan Bagaimana? di Jakarta, Rabu (30/10/2019).

Menurutnya, dari nama-nama kabinet yang masuk dalam pemerintahan Jokowi mengisyaratkan upaya rekonsiliasi. Bahkan, dari upaya rekonsiliasi tersebut berhasil mengajak Prabowo Subianto untuk masuk ke dalam pemerintahan membantu Jokowi.

"Kabinet baru juga mengisyaratkan rekonsiliasi itu sendiri. Yang belum menang bahkan juga ikut bergabung. Rekonsiliasi nasional juga amanat Pancasila yang niscaya dalam bangsa kita yang majemuk, beranekaragam," ucapnya.

Dirinya mengingatkan, kemajemukan yang dimiliki Indonesia harus menjadi faktor kekuatan. Jangan sampai kemajemukan itu sendiri dijadikan salah satu faktor kelemahan yang justru akan merugikan keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Kemajemukan bisa menjadi kekuatan, bisa juga menjadi kelemahan. Karena itu siapapun yang menang, harus bisa menjadi pemimpin bagi seluruh masyarakat Indonesia," ucap Din Syamsudin.



Sumber: Suara Pembaruan