Lemhannas: Potensi Konflik Perpecahan Pasca Pilpres Mereda

Lemhannas: Potensi Konflik Perpecahan Pasca Pilpres Mereda
2019 - Gubernur Lemhannas RI Jenderal (Purn.) Agus Widjojo saat memberikan sambutan pada acara Seminar Nasional di Jakarta, Jumat (20/9/2019). (Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono)
Yeremia Sukoyo / YUD Selasa, 5 November 2019 | 15:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Letjen TNI Purn Agus Widjojo menilai, potensi konflik perpecahan yang sempat mengancam saat Pemilihan Umum (Pemilu) sudah mulai mereda seiring dengan adanya sikap kenegarawanan tokoh politik.

"Konflik tersebut telah mereda seiring kontestasi para tokoh politik dengan sikap kenegarawanannya mengadakan pertemuan yang menimbulkan ekses telah berakhirnya konstelasi politik," kata Gubernur Lemhannas Letjen TNI Purn Agus Widjojo dalam Forum Komunikasi dengan Pemimpin Redaksi Media Massa, di Kantor Lemhannas, Jakarta, Selasa (5/11/2019).

Seperti diketahui, sesaat setelah pasangan presiden terpilih dilantik, Jokowi akhirnya mengajak dan melibatkan lawan politiknya untuk membantu di dalam pemerintahan. Bahkan, lawan politik Jokowi pun ditempatkan di pos-pos strategis pemerintahan.

Karena itulah, menurut Agus, pelaksanaan demokrasi di Indonesia tahun 2019 sudah harus dianggap menjadi momentum demokrasi Indonesia agar lebih baik. Pencapaian demokrasi pun menjadikan Indonesia merupakan negara satu-satunya yang melaksanakan Pemilu secara serentak dengan sukses.

Dikatakan Agus, selama ini Lemhannas juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui tugas dan fungsinya yakni menyelenggarakan pendidikan penyiapan kader dan pemantapan pimpinan nasional. Termasuk pemantapan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam empat konsensus dasar bangsa ikut berperan aktif dalam menciptakan situasi yang kondusif.

Namun, lanjut dia, untuk mengawal demokrasi dan menjamin keutuhan NKRI, Lemhannas tidak dapat berjuang sendiri tanpa peran dari komponen bangsa lainnya. Termasuk juga seluruh lapisan masyarakat yang terlibat secara aktif di dalamnya.



Sumber: Suara Pembaruan