Presiden Anugerahi Gelar Pahlawan kepada Wartawati dan Tokoh Kemerdekaan

Presiden Anugerahi Gelar Pahlawan kepada Wartawati dan Tokoh Kemerdekaan
Jokowi ( Foto: Antara )
Novy Lumanauw / FMB Jumat, 8 November 2019 | 11:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi), pada Jumat (8/11/2019) di Istana Negara, Jakarta akan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh, yang dinilai berjasa bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Keenam tokoh calon penerima gelar Pahlawan Nasional di antaranya, wartawati asal Sumatera Barat Rohana Kudus serta dua tokoh Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)/Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) Prof KH Abdul Kahar Muzakir dan Prof Dr Sardjito dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Tiga anggota BPUPKI/PPKI yang tersisa yang belum dapat anugerah selama ini,” kata Wakil Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Negara Jimly Asshiddiqie saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Jimly mengatakan, para penerima gelar Pahlawan Nasional merupakan hasil seleksi dari 20 nama yang diserahkan oleh Kementerian Sosial kepada Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Negara. Usulan pemberian gelar tertuang dalam Surat Menteri Sosial RI Nomor 23/MS/A/09/2019 perihal usulan yang telah mendapat persetujuan untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Tahun 2019.

“Kita akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa tahun ini enam saja. Jadi, enam yang dipilih dari 20 yang diajukan," jelas Jimly.

Rohana Kudus dikenal sebagai wartawati perempuan pertama Indonesia asal Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Namanya secara resmi akan ditetapkan menjadi pahlawan nasional tahun ini, meski sempat dua kali gagal saat diusulkan. Rohana Kudus lahir pada 1884 dan meninggal dunia pada 17 Agustus 1972.

Sementara itu, Kiai Haji Abdul Kahar Mudzakir lahir di Kota Gede, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 1908 dan meninggal pada 2 Desember 1973. Ia dikenal sebagai perintis Universitas Islam Indonesia (UII) dan pernah menjadi anggota BPUPKI/PPKI.

Sedangkan Profesor Dr Sardjito merupakan perintis serta rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1950-1961, dan kemudian menjabat rektor UII pada 1961-1970. Nama Sardjito juga telah diabadikan sebagai nama rumah sakit umum pusat di Yogyakarta.



Sumber: Suara Pembaruan