BPIP: Kembalikan Ekosistem Pancasila yang Sudah Hilang

BPIP: Kembalikan Ekosistem Pancasila yang Sudah Hilang
Romo Benny Susetyo ( Foto: http://sigmanews.us )
Yustinus Paat / AO Senin, 11 November 2019 | 22:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo mengajak berbagai elemen bangsa untuk mengembalikan ekosistem Pancasila yang sudah hilang dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Romo Benny, setiap warga negara mempunyai tanggung jawab historis dan moral untuk menghidupi ekosistem Pancasila.

Hal ini disampaikan Romo Benny saat menjadi narasumber dalam seminar bertajuk "Merawat Kemajemukan, Memperkuat Negara Pancasila" di Hotel Ashley, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Senin (11/11/2019).

"Ekosistem Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat sudah hilang. Kita harus mengembalikan kembali sejarah awal bangsa dengan penuh kerukanan di tengah perbedaan. Itu adalah tanggung jawan historis dan moral kita sebagai warga negara Indonesia," ujar Romo Benny.

Ekosistem Pancasila, kata Romo Benny, adalah ekosistem yang menerima perbedaan dan keanekaragaman. Menurut dia, dalam ekosistem Pancasila, semua menerima pandangan hidup bahwa berbeda itu saling melengkapi dan saling merajut persatuan.

"Untuk mengembalikan ekosistem Pancasila ini harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak yang kemudian menjadikannya habituasi. Jadi, pendidikan Pancasila bukan lagi dengan cara doktrinisasi, tetapi dengan habituasi menanamkan pendidikan karakter kepada anak-anak untuk mengenal keragaman dan kemajemukan," jelas Benny.

Menurut dia, hal pokok yang harus ditanamkan dan menjadi habituasi sedari dini dalam pendidikan karakater adalah mengajari perbedaan dan memberikan pemahaman bahwa berbeda itu saling melengkapi.

"Guru dan orangtua harus membangun ekosistem Pancasila ini. Menghayati bukan didoktrin, tetapi bisa lewat dongeng, pembelajaran, kesenian, hingga permainan sehingga menjadi habituasi sejak dini sudah menhayati pancasila dalam hidup yg saling melengkapi," terang Romo Benny.

Senada dengan itu, Ketua MPR Bambang Soesatyo yang juga hadir dalam seminar tersebut, menegaskan, toleransi harus menjadi sebuah kebutuhan. Toleransi, kata Bamsoet bukan sesuatu yang diberi, tetapi sesuatu yang harua diperjuangkan. "Tolerensi harus menjadi kebutuhan bagi kita karena kebinekaan adalah pembentuk bangsa. Bukan sesuatu yang bersifat diberi, tetapi harus diperjuangkan," kata Bamsoet

Bamsoet menjelaskan juga bahwa radikalisme adalah embrio lahirnya terorisme melalui kekerasan dan aksi-aksi yang ekstrim. Ciri terorisme tersebut adalah intoleransi, fanatik selalu merasa benar sendiri, eksklusifisme, hingga kekerasan dalam bentuk lain.

Karena itu Bamsoet menegaskan bawah Presiden RI Joko Widodo memiliki komitmen tinggi untuk menjaga ideologi bangsa dengan membuat dua lembaga untuk pemantapan ideologi bangsa yaitu MPR dan BPIP. "MPR dan BPIP adalah dua lembaga yang harus bekerja sama dalam pemantapan ideologi bangsa dalam mengawal dan menumbuhkan keyakinan terhadap ideologi Pancasila," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan