Nasdem Selalu Selangkah di Depan, tetapi Ini Kelemahannya

Nasdem Selalu Selangkah di Depan, tetapi Ini Kelemahannya
Ketua umum Partai Nasdem Surya Paloh, didampingi sejumlah pengurus dan fungsionaris Partai Nasdem, memberikan sambutann saat meninjau suasana luar areal di hari ke dua Kongres ke II Partai Nasdem di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Minggu 10 November 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao )
Carlos KY Paath / FMB Selasa, 12 November 2019 | 12:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Partai Nasdem selalu selangkah di depan dalam menjaring pemimpin nasional dan daerah. Nasdem sangat merespons keinginan publik. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Indopolling Network, Wempy Hadir kepada Beritasatu.com, Selasa (12/11/2019).

“Nasdem memang selalu lebih awal jaring pemimpin. Ambil contoh di DKI Jakarta, Nasdem partai pertama yang deklarasi dukung BTP (Basuki Tjahaja Purnama). Hampir menang. Nasdem juga yang pertama dukung Ridwan Kamil,” kata Wempy.

HUT Nasdem Tegaskan Persatuan dalam Keberagaman

Pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019, menurut Wempy, Nasdem secara resmi memutuskan mengusung kembali Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak November 2017. Sementara untuk Pilpres 2024, Nasdem cukup banyak mendorong figur-figur potensial sebagai pemimpin.

“Nasdem persilakan Anies Baswedan. Mereka juga dorong Khofifah Indar Parawansa, Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil. Pesannya apa? Nasdem ingin akomodir para figur atau tokoh potensial sebagaimana harapan publik. Nasdem tidak ada urusan dengan latar belakang sejumlah tokoh itu,” ujar Wempy.

Surya Paloh Tepis Dukung Anies atau Ridwan Kamil di Pemilu 2024

Wempy menyatakan, Nasdem diuntungkan dari segi popularitas dan elektabilitas internal. Publik akan mengetahui dari awal arah Nasdem dalam Pilpres. Meski begitu, Wempy menyatakan, strategi tersebut memiliki kelemahan.

Wempy menjelaskan, Nasdem tidak mempunyai ikatan emosional yang kuat dengan tokoh yang diusung, apalagi jika bukan berasal dari kader. Berbeda dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

“Kalau di PDIP, ada ikatan emosional yang kuat antara pemimpin yang diusung dengan partai. Misal Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo, dan Jokowi. Pemimpin tidak cepat mengingkari partainya ketika nanti berkuasa. Walau ada tekanan segala macam, tetap setia,” kata Wempy.

Jokowi: Soal Mba Mega dan Bang Surya Tak Salaman, Hanya Kelewatan Saja

Di sisi lain, Wempy mengungkapkan, Nasdem mengalami kenaikan tertinggi pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 yaitu sebesar 2,33 persen jika dibandingkan dengan partai lain. Pada Pileg 2014, Nasdem hanya meraih 6,72 persen, pada Pileg 2019 menjadi 9,05 persen.

Peningkatan suara itu, menurut Wempy, disebabkan karena faktor calon anggota legislatif (caleg) dari Nasdem. “Lagi-lagi Nasdem punya strategi bagus dalam menjaring caleg. Tokoh-tokoh yang punya modal sosial, ada juga yang ditendang partai lain, Nasdem justru terima, dan berhasil,” ucap Wempy.



Sumber: Suara Pembaruan