Partai Nasdem Sedang "Belanja Politik"

Partai Nasdem Sedang
Suasana Kongres II Partai Nasdem, Senin, 11 November 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Primus Dorimulu )
Yustinus Paat / FMB Selasa, 12 November 2019 | 13:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat Politik dari Universitas Padjajaran Muradi menilai Partai Nasdem ingin meraih sejumlah dampak positif dari langkahnya menjaring calon presiden untuk Pemilu 2024 lebih awal. Muradi menyebutkan tiga keuntungan Partai Nasdem dengan langkah tersebut.

"Pertama, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Partai Nasdem meningkatkan daya tawar politiknya ke partai koalisi pemerintahan," ujar Muradi saat dihubungi, Selasa (12/11/2019)

Kedua, kata Muradi, Partai Nasdem sedang berupaya dan berharap mendapatkan efek elektoral dan efek kejut dari langkah tersebut. Apalagi, tokoh-tokoh yang dijaring Partai Nasdem merupakan kepala daerah yang mempunyai basis massa yang jelas dan sumber daya yang memadai.

"Ketiga, memagari sejumlah calon potensial agar tidak dipinang terlebih dahulu oleh partai lain sehingga bisa memberikan citra positif untuk Partai Nasdem," tandas dia.

Nasdem Selalu Selangkah di Depan, tapi Ini Kelemahannya

Muradi menilai langkah Partai Nasdem sebenarnya bukan langkah baru dalam strategi politik. Partai Nasdem, kata dia, hanya sekedar "belanja politik" lebih awal agar mendapatkan sejumlah keuntungan untuk masa depan partai Nasdem.

"Strategi seperti itu tidak selalu berhasil bergantung pada konsistensi dalam menjaga agar strategi tersebut tidak dibajak oleh kekuatan politik lain. Ini ujian bagi Nasdem untuk menjaga dan konsisten dengan situasi tersebut. Tidak banyak partai dan kekuatan politik lain yang mampu menjaga konsistensi tersebut dalam 4-5 tahun mendatang. Artinya itu bergantung sejauh mana Nasdem konsisten melakukan hal itu," terang dia.

Lebih lanjut, Muradi menilai keberhasilan Partai Nasdem dalam meningkatkan suara di Pemilu 2019 bukan hanya karena strategi menjaring capres lebih awal. Namun, kata dia lebih karena sikap adaptif partai Nasdem dalam menerapkan strategi politik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi konstituen.

Muradi mencontohkan, pada Pemilu 2019 lalu, Partai Nasdem dan termasuk Golkar sudah sejak awal menggunakan tagline "Nasdem Partaiku, Jokowi Presidenku". Namun, kata dia, tagline tersebut tidak terlalu bergema di daerah-daerah yang kurang ramah dengan Jokowi. Bahkan, para calegnya perlahan-lahan tidak memasang foto Jokowi di basis-basis yang dianggap tidak ramah kepada figur Jokowi seperti di Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan NTB serta daerah lainnya.

"Artinya saya masih melihat bahwa strategi di awal tidak sepenuhnya dipraktikkan dan konsisten, tetapi lebih adaptif sehingga Nasdem mampu meningkatkan jumlah suara lebih dari 4 juta pemilih," pungkas dia.



Sumber: BeritaSatu.com