Kejelian Politik Nasdem

Kejelian Politik Nasdem
Ketua umum Partai Nasdem Surya Paloh, dalam pidato politiknya pada acara penutupan Kongres ke II dan ulang tahun ke -8 Partai Nasdem yang digelar di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, 11 November 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Carlos KY Paath / FMB Selasa, 12 November 2019 | 12:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Direktur Indostrategi, Arif Nurul Imam menegaskan, Partai Nasdem memiliki kejelian dalam memantau figur-figur potensial untuk dijadikan pemimpin. Elektabilitas sejumlah tokoh pun dikaji dan diperhitungkan secara matang oleh Nasdem.

“Harus diakui bahwa Nasdem itu selalu terdepan ketika melihat tokoh-tokoh potensial untuk dicalonkan. Kenapa mereka menang banyak pilkada (pemilihan kepala daerah)? Salah satunya karena Nasdem jeli dan melihat elektabilitas sebagai basis mendukung kandidat,” kata Arif.

Hal itu disampaikan Arif kepada Beritasatu.com, Selasa (12/11/2019). “Pola Nasdem yang selalu jadi inisiator, termasuk jemput bola para tokoh yang punya elektabilitas tinggi, dan rekam jejak bagus di publik, nantinya digunakan dalam Pilpres (Pemilu Presiden dan Wakil Presiden) 2024,” ucap Arif.

Menurut Arif, strategi Nasdem itu tentunya berdampak positif. “Bisa menjadi klaim politik dan branding (pencitraan) Nasdem. Dikapitalisasi Nasdem untuk branding, alat ungkit politik. Polanya begitu, dan kalau melihat tren bisa dibilang sukses,” imbuh Arif.

Arif menambahkan, pola yang digunakan Nasdem juga mempunyai kelemahan. Arif menjelaskan, lawan-lawan politik semakin dimudahkan membaca arah Nasdem dalam kontestasi pesta demokrasi nasional dan lokal.

“Kelemahannya ialah akan mudah dibaca secara politik. Gampang di-downgrade oleh lawan politik. Ketika figur itu bagus hari ini, tetapi saat sudah muncul di panggung, kalau didukung Nasdem, maka lawan politik akan cari cara untuk mendelegitimasi. Akibatnya, negatif buat kandidat,” kata Arif.

Nasdem Selalu Selangkah di Depan, tapi Ini Kelemahannya

Di sisi lain, Arif menyatakan, suatu kewajaran apabila ada anggapan Nasdem kini seolah-olah “bermain dua kaki”. Artinya, satu kaki Nasdem mendukung penuh pemerintah, satu lagi bersiap menghadapi Pilpres 2024.

Arif menuturkan, komunikasi politik yang dibangun Ketua Umum Nasdem Surya Paloh dengan partai non pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) cukup intens beberapa waktu lalu. Sulit menafikan apabila manuver tersebut tidak dalam rangka Pilpres 2024.

“Tidak salah anggapan itu (Nasdem 'bermain dua kaki'). Safari politik Surya Paloh, saya kira juga harus dilihat sebagai langkah politik untuk 2024. Safari Bang Surya memang akhirnya menimbulkan sedikit 'kejengkelan' di kalangan partai koalisi,” kata Arif.

Arif pun menyebut, “Wajar juga kalau ada respons-respons yang diksinya tidak senang dengan safari politik Bang Surya. Tapi Pak Jokowi sudah menangkis isu (perpecahan di koalisi). Pak Jokowi ingin agar soliditas tim koalisi pendukungnya tidak terganggu.”



Sumber: Suara Pembaruan