Nasdem Sadar Tak Punya Kader dengan Daya Magnet Elektoral

Nasdem Sadar Tak Punya Kader dengan Daya Magnet Elektoral
Ketua umum Partai Nasdem Surya Paloh, dalam pidato politiknya pada acara penutupan Kongres ke II dan ulang tahun ke -8 Partai Nasdem yang digelar di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, 11 November 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Yustinus Paat / JAS Selasa, 12 November 2019 | 13:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Analis Politik Exposit Strategic Arif Susanto menilai strategi Partai Nasdem menjaring capres Pemilu 2024 lebih awal dipengaruhi minimnya kader partai tersebut yang memiliki daya magnet elektoral yang kuat. Menurut Arif, kesadaran ini membuat Partai Nasdem terbuka dengan tokoh-tokoh di luar partainya untuk menjadi bakal capres di Pemilu 2024.

"Nasdem sadar bahwa mereka kekurangan kader dengan personalitas kuat yang mampu menjadi magnet elektoral," ujar Arif di Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Sementara di sisi lain, kata Arif, Partai Nasdem sadar dengan potensialitasnya sebagai partai yang terus mendulang peningkatan suara dalam dua pemilu terakhir. Yang jelas, kata dia, Partai Nasdem, berupaya mempertahankan dan bila perlu terus melakukan peningkatan perolehan suara.

Baca juga: Kejelian Politik Nasdem

"Hal-hal tersebut memaksa mereka (Nasdem) untuk bukan hanya membuka ruang komunikasi dengan partai lain dan politikus-politikus non-kader Nasdem, tetapi juga mengembangkan posisi tawar lebih baik," ungkap dia.

Arif memandang strategi Partai Nasdem yang disebutnya sebagai strategi antisipatif bisa berubah menjadi kontra-produktif jika pada saat bersamaan justru berlawanan dengan kepentingan untuk menjaga hubungan baik dengan mitra koalisi. Pasalnya, langkah tersebut potensial dipandang sebagai ancaman di tengah usaha PDIP untuk mempertahankan dominasi mereka.

"Apalagi PDIP punya pengalaman buruk dengan upaya pembentukan Partai Demokrat serta pencalonan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) sebagai kandidat presiden pada 2004," tutur dia.

Baca juga: Jokowi: Urusan Rangkulan Hanya Masalah Kecemburuan

Manuver Partai Nasdem, kata Arif sebenarnya berhasil mengusik ketenangan Presiden Jokowi dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Namun, kata dia, ketegangan antara Ketum Nasdem Surya Paloh dan Megawati sudah mulai mereda.

"Selanjutnya, kemungkinan Nasdem akan menetapkan sasaran antara untuk tetap menjadi bagian koalisi pemerintahan sambil membuka ruang untuk keluar dari dominasi PDIP. Situasinya menjadi lebih kompleks bagi Jokowi dan Megawati karena langkah Nasdem berpeluang untuk diikuti oleh partai-partai lain anggota koalisi," terang dia.



Sumber: BeritaSatu.com