Ideologi Islam Radikal Sebut Indonesia dalam Darurat Perang

Ideologi Islam Radikal Sebut Indonesia dalam Darurat Perang
Siti Musdah Mulia ( Foto: istimewa )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Rabu, 13 November 2019 | 16:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ideologi Islam radikal yang saat ini sedang berkembang dan terus disebarkan adalah meyakinkan bahwa komunitas Muslim Indonesia dalam keadaan darurat perang.

Terkait dengan itu, komunitas Muslim Indonesia terutama kaum laki-laki didorong untuk menjadi Jundullah (tentara Allah), yang siap berperang (jihad) bahkan mati syahid dengan menjadi pelaku bom bunuh diri. 

Hal itu disampaikan Kepala Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Siti Musdah Mulia, dalam pidatonya berjudul Mengelola Keberagaman, Multi-peran, serta Kontribusi Perempuan dalam Mengelola Tantangan dan Langkah ke Depan dalam pembukaan ASEAN Women Interfaith Dialogue (Dialog Lintas agama Perempuan ASEAN), di Jakarta, Selasa (12/11). Dialog itu mengangkat tema Mempromosikan Pemahaman untuk Masyarakat yang Inklusif dan Damai.

Selain direkrut menjadi tentara Allah, kaum laki-laki Muslim juga didorong untuk berpoligami dan memiliki banyak anak dengan tujuan meningkatkan jumlah pejuang di Tentara Allah.

Menurut Siti Musdah Mulia, atas tujuan yang sama, paham Islam radikal tentang poligami juga mewajibkan kaum perempuan Muslim untuk menerima dipoligami, sesuai hukum syariat. Kelompok radikal Islam juga mempromosikan perkawinan dan perceraian demi memastikan jumlah istri yang diambil tidak melebihi empat istri sesuai Syariah mereka.

"Tidak jarang beberapa pria dapat menikahi puluhan perempuan dan memiliki puluhan anak. Lebih banyak anak, lebih banyak kemakmuran, itu yang mereka yakini," kata Siti Musdah Mulia.

Semua ideologi itu, dibingkai dalam penolakan terhadap pendidikan seks dan kesehatan reproduksi. "Akibatnya, perempuan tidak memahami hak-hak seksual dan kesehatan reproduksi mereka,” ujar  Siti Musdah Mulia.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, mengatakan perempuan adalah responden pertama serta pembela toleransi dan moderasi di dalam keluarga. Retno mengatakan kemampuan dan kemudahan perempuan untuk berhubungan dan memenangkan hati dari komunitas akan memampukan mereka mempromosikan nilai-nilai toleransi di lingkup lebih luas.

“Sebagai bagian penting dari masyarakat dan mencakup 50 persen populasi dunia, perempuan punya peran penting di sebagian besar masyarakat untuk mendorong nilai-nilai toleransi dan moderasi lewat keluarga dan anak-anak mereka,” kata Retno Marsudi lewat siaran video yang ditampilkan dalam sesi pembukaan acara tersebut.

Retno Marsudi mendorong perempuan menjadi pusat dari upaya dialog lintas agama. Lewat perempuan, dia meyakini ada kesempatan lebih baik untuk kehidupan masyarakat yang inklusif dan damai.



Sumber: Suara Pembaruan