Soal Nyapres, Puan: Saya Fokus ke DPR

Soal Nyapres, Puan: Saya Fokus ke DPR
Ketua DPR RI Puan Maharani (kanan) bersama Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P. Roeslani saat acara Kadin Talks di Kantor Pusat Kadin Indonesia, di Jakarta, Kamis (21/11/2019). Bincang-bincang bertema Jejak Sang Puan ini membahas sinergi antara pengusaha dengan legislatif dibawah kepemimpinan Puan Maharani. ( Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad Defrizal )
Leonard AL Cahyoputra / YUD Kamis, 21 November 2019 | 11:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Puan Maharani memiliki jejak karir politik yang panjang, dimana tiga kali menjadi anggota DPR dan pernah menjadi Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) periode pertama. Melihat rekam jejak tersebut, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, menanyakan soal kemungkinan Puan untuk mencalonkan diri jadi Presiden pada Pemilu 2024 mendatang, saat acara Kadin Talk di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Puan tidak menjawab iya atau tidak, ia hanya menjawab tengah memfokuskan pada kinerja dia sebagai Ketua DPR.

Dia mengatakan dari sisi syarat untuk maju sebenarnya sudah memenuhi. Seperti persentanse yang cukup untuk mencalonkan pasangan Capres dan Wapres sendiri dan track record-nya juga ada. "Cuma saya mau fokus dulu jadi ketua DPR. Mau memperbaiki citra DPR," ucap dia.

Puan mengaku ingin memperbaiki citra dan kinerja DPR ke depan. Gimana supaya DPR punya sistem dan mekanisme yang membuat peningkatan kinerja seluruh anggota DPR. Hal itu dikarenakan DPR itu kolektif kolegial yang mempunyai 9 fraksi saat ini. "Enggak bisa ketua DPR merintah harus begini begitu. Mungkin dari PDI-P perjuangan nurut tapi partai lain ga nurut. Namun saya nyatakan ini bukan buat merah kuning biru, ini buat DPR," ucap dia

Puan bertujuan untuk membuat citra DPR tidak dilihat sebagai suatu lembaga yang paling buruk kinerjanya. Kemudian gimana komitmennya melakukan itu? Dia mengaku saat ini sedang mencoba satu per satu, seperti perbaikan absen dari tanda tangan di kertas menjadi finger print atau pake kartu. "Kita kan skrang kalau ttd masih di kertas itu loh. Kayak zaman sekolah dulu. Padahal yang lain pake kartu tinggal tap dan finger print lah. Ini memang perlu waktu dan bertahap, enggak bisa instan," ucap Puan.

Selain itu dia ingin DPR membuat undang-undang yang berkualitas dan tidak asal banyak. Ia melihat saat ini bukan zamannya lagi DPR membuat undang-undang sebanyak mungkin. "Tapi bagaiamana kualitas dari uu itu sedikit tapi bermanfaat buat masyarakat. Gimana caranya? Ya harus sosialisasi, harus banyak diskusi, harus Terima masukan dari tempat lain," pungkas Puan.



Sumber: Investor Daily