Waspadai Agenda Tersembunyi "Mafia" di Balik Penolakan BTP
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Waspadai Agenda Tersembunyi "Mafia" di Balik Penolakan BTP

Jumat, 22 November 2019 | 07:12 WIB
Oleh : Asni Ovier / AO

Jakarta, Beritasatu.com - Peneliti Alpha Research Database Indonesia, Ferdy Hasiman menilai penolakan Serikat Pekerja Pertamina dan beberapa tokoh terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (BTP) mengisi posisi penting di Pertamina tidak logis. Mereka menolak karena menilai BTP tak memiliki kecakapan dalam mengolah korporasi dan tak memiliki pengalaman mengolah perusahaan minyak dan gas.

"Saya beranggapan alasan ini tak logis. Penolakan justru karena ada kartel-mafia migas di baliknya. Para mafia tak ingin ada utusan Presiden Jokowi dan Menteri BUMN Erick Tohir yang ingin membereskan Pertamina. Mafia pasti berkumpul membentuk kekuatan besar dan membentuk opini agar memengaruhi proses pengambilan keputusan," ujar Ferdy di Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Yang aneh, kata Ferdy, ada tokoh justru memberikan masukan kepada Presiden agar memilih beberapa nama dan mantan pejabat untuk mengisi posisi penting di Pertamina. Menurut dia, masukan itu membuat publik curiga, jangan-jangan karena ada agenda tersembunyi. “Ini musim orang mencari jabatan. Awal pemerintahan, banyak eselon dan direksi yang dirombak. Para pencari jabatan bisa memotong BTP melalui kelompok kritis," ujar dia.

Presiden Jokowi, kata Ferdy, paham orang yang dia utus ke Pertamina itu loyal kepadanya. Menurut dia, BTP sudah memiliki chemistry dan sudah teruji rekam jejak bekerja bersama Jokowi di DKI Jakarta. "Presiden paham jika dia mengutus BTP ke Pertamina maka tak akan dipermainkan dan bekerja tulus membantu membenahi manajemen Pertamina. Jika BTP tak bekerja benar, Presiden bisa memerintahkan menteri BUMN untuk mencopotnya," kata Ferdy.

Selama ini, lanjut Ferdy, direktur utama Pertamina selalu diisi oleh orang-orang yang memiliki pengalaman di bidang korporasi dan migas. Namun, kata dia, mereka selalu gagal membawa Pertamina terbang tinggi untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan global, seperti Petronas atau PTT Thailand.

Keberadaan beberapa dirut Pertamina yang berasal dari internal dan berlatar belakang korporasi, menurut Ferdy, justru gagal melakukan transfer budaya kerja dan reformasi di tubuh Pertamina. Pasalnya, bawahan-bawahan mereka tidak mengikuti perintah dirut.

"Ini semua fakta, bukan asumsi. Tuntutan Serikat Pekerja Pertamina dan kritik tokoh soal kriteria calon bos Pertamina dari latar belakang korporasi atau internal Pertamina terbantahkan," ujar dia.

Karena itu, kata Ferdy, bos Pertamina ke depan harus disokong kuat oleh Presiden dan menteri. Menurut dia, bos Pertamina harus orang yang ditakuti para mafia. Dirut Pertamina bukan orang biasa-biasa saja, tetapi orang ditakuti para mafia.

Para mafia, kata Ferdy tak ingin Pertamina membangun kilang agar terus mengimpor dan neraca keuangan negara kemudian defisit. Mereka-mereka ini menjadi petron dari mafia migas yang bertugas membeli minyak dari pusat perdagangan di Singapura.

"Tak sembarangan, pelaku bisnis yang bisa bekerja sama dan mendapat tender dari Petral. Butuh akses dengan orang-orang internal Pertamina, pengalaman, dan harus mampu melayani dengan baik semua rantai jaringan mafia mulai dari Pertamina-penguasa agar bisa survive," jelas dia.

Mafia migas, kata Ferdy menikmati untung dari penurunan produksi minyak nasional. Sejak 2010-2019, kata dia, produksi minyak terus menurun di bawah 800.000 Barrel Oil Per Day (BOPD). Sementara, konsumsi BBM (bensin, solar) domestik mencapai 1,5 juta BOPD. Itu artinya, Indonesia harus mengimpor 700.000 hingga 800.000 BOPD.

"Dana untung dari impor migas itu kemudian dibagi-bagi ke rantai jaringan mafia, sehingga banyak sekali elite bisnis dan politik yang mendapat berkah. Jadi, Petral ini benar-benar menunjukan ada kartel-oligarki di sektor energi. Bisnis mafia migas dengan Petral itu adalah bisnis triliun rupiah dan ini tentu korupsi sangat besar," terang dia.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Ini 7 Staf Milenial Presiden

Selain staf khusus, para tokoh muda ini disebut presiden sebagai "kawan bicaranya".

POLITIK | 21 November 2019

Deny Indrayana: Masyarakat Masih Ingin Pilkada Langsung

"Yang penting adalah apapun pilihannya, harus tetap pegang pada penegakan hukum yang jujur dan adil, tanpa politik uang, dan tidak ada praktik koruptif."

POLITIK | 21 November 2019

PSI: Jabatan Kepresidenan Bisa Tujuh Tahun, tetapi Hanya Satu Periode

Jika hanya satu periode, setiap presiden akan bekerja semaksimal mungkin, fokus bekerja buat rakyat, dan tidak memikirkan pemilu berikutnya.

POLITIK | 21 November 2019

Next Policy: Netizen Masih Tunggu Terobosan Nadiem Makarim

Nadiem Makarim adalah platform brand yang menawarkan kebaruan atau novelty dalam house of brand kabinet Jokowi- Ma’ruf.

POLITIK | 21 November 2019

Penunjukan Staf Khusus Presiden dari Kalangan Milenial Hak Prerogatif Presiden

Tenaga Ahli Utama KSP Ali Mochtar Ngabalin Presiden Jokowi menunjuk langsung tujuh nama dari kalangan milenial sebagai staf khusus presiden.

POLITIK | 21 November 2019

PDIP: Tak Ada Kata Kalah Bagi Para Caleg Gagal

Bagi PDIP, setiap caleg itu memiliki potensi yang bisa dikembangkan.

POLITIK | 21 November 2019

Wapres Beri Penghargaan kepada PDIP Sebagai Partai Paling Informatif

Parpol secara keseluruhan jauh lebih terbuka dibandingkan lembaga negara lainnya.

POLITIK | 21 November 2019

Janji-janji Pilkada Penyebab Perda Bermasalah

Calon kepala daerah kadang menjanjikan sesuatu demi keuntungan elektoral, tanpa melihat dampak negatif janji tersebut.

POLITIK | 21 November 2019

Pendiri Amartha Jadi Kandidat Stafsus Presiden

Andi Taufan Garuda menjadi salah satu Kandidat staf khusus Presiden Jokowi.

POLITIK | 21 November 2019

Presiden Jokowi Akan Umumkan 12 Staf Khusus

Presiden Joko Widodo berencana mengumumkan 12 orang nama staf khusus (stafsus) Presiden pada hari ini, Kamis (21/11/2019).

POLITIK | 21 November 2019


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS