7 Staf Khusus Milenial Jokowi

Angkie Yudistia, Difabel Inspiratif

Angkie Yudistia, Difabel Inspiratif
Aktivis disabilitas yang aktif bergerak di sociopreneur melalui Disable Enterprise, Angkie Yudistia diperkenalkan Presiden Joko Widodo sebagai staf khusus di beranda belakang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 21 November 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao )
Dina Fitri Anisa / AB Jumat, 22 November 2019 | 11:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo pada Kamis (21/11) mengumumkan tujuh staf khusus yang berasal dari kalangan milenial. Satu di antaranya adalah sosok perempuan bernama Angkie Yudistia.

"Angkie Yudistia, usia 32 tahun adalah anak muda penyandang disabilitas yang aktif bergerak di sociopreneur," kata Jokowi ketika mengumumkan dan mengenalkan tujuh staf khusus di Istana Merdeka Jakarta.

Dalam perkenalan itu, Jokowi menyebut Angkie merupakan sosok muda yang aktif di organisasi, termasuk organisasi internasional. Jokowi kemudian mendapuk perempuan penyandang disabilitas tunarungu itu sebagai juru bicara presiden bidang sosial.

Segudang Prestasi
Angkie dikenal oleh masyarakat luas sebagai perempuan muda yang menginspirasi. Keterbatasan yang dimiliki tak menghalanginya mewujudkan mimpi. Dia justru menjelma menjadi sosok perempuan dengan segudang prestasi.

Angkie lahir di Medan pada 5 Mei 1987. Awalnya terlahir dengan kondisi normal. Pendengarannya mulai menghilang saat perempuan berhijab itu menginjak usia 10 tahun. Diduga, hal tersebut terjadi akibat dirinya mengonsumsi obat-obatan saat terserang beberapa penyakit, termasuk malaria.

Kejadian itu sempat membuatnya terpukul dan merasa tidak percaya diri. Namun, dukungan yang kuat dari keluarga dan orang-orang terdekat, terutama sang ibu, secara perlahan berhasil membangkitkannya dari keterpurukan.

Angkie menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 2 Bogor. Putri pasangan Hadi Sanjoto dan Indiarty Kaharman ini melanjutkan pendidikan di London School of Public Relations Jakarta. Di kampus ini pula perempuan yang dikenal gemar menulis tersebut meraih gelar master pada 2010.

Pada 2008, perempuan yang menjalani aktivitas dengan menggunakan alat bantu pendengaran itu mengikuti ajang Abang None Jakarta dan berhasil terpilih sebagai salah satu finalis dari daerah pemilihan Jakarta Barat. Masih pada tahun yang sama, dia juga sukses menyabet penghargaan sebagai "The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008".

Angkie terus berkarya mewujudkan satu demi satu mimpinya. Pada 2011, dia menelurkan buku berjudul Perempuan Tunarungu Menembus Batas. Buku keduanya yang berjudul Setinggi Langit hadir di pasaran dua tahun kemudian. Pada 2019, Angkie kembali meluncurkan buku ketiga berjudul Become Rich as Sociopreneur.

Pada 2011, perempuan yang aktif berkegiatan di Yayasan Tunarungu Sehjira sejak 2009 itu kemudian mendirikan sebuah perusahaan bernama Thisable Enterprise. Sebelumnya, Angkie pernah bekerja di beberapa perusahaan, seperti IBM Indonesia dan Geo Link Nusantara.

Angkie mendirikan perusahaan tersebut dengan tujuan untuk memberdayakan kelompok disabilitas Indonesia agar memiliki kemampuan dan keterampilan, dan menyalurkannya ke dunia kerja, terutama dalam industri ekonomi kreatif. Saat ini kelompok disabilitas masih kesulitan memperoleh pekerjaan. Angkie berharap lewat Thisable Enterprise, kalangan disabilitas mampu bersaing dalam dunia kerja.

Thisable Enterprise kini telah berkembang menjadi sebuah grup yang membawahkan Thisable Foundation, Thisable Recruitment, serta Thisable Digital. Melalui perusahaan-perusahaan tersebut, Angkie menyediakan pelatihan bagi penyandang disabilitas agar dapat bekerja.

Thisable Enterprise juga mengeluarkan sejumlah produk retail, khususnya di bidang perawatan tubuh, seperti sabun dan kosmetik kecantikan.

Sociopreneur
Dalam wawancara beberapa waktu lalu, Angkie mengaku dengan menjadi sociopreneur dirinya bisa memiliki kekayaan materi, juga rohani. 

"Walaupun tujuan utama seorang sociopreneur bukanlah profit, tetapi untuk meluaskan gerakannya ke lingkungan masyarakat, kita harus memastikan bahwa kebutuhan diri sendiri dan keluarga juga terpenuhi. Hal ini sangat penting karena untuk bisa berbisnis secara berkesinambungan, dibutuhkan kesejahteraan dari si pelaku bisnis sosial itu sendiri,” terangnya.

Dengan berbisnis untuk kepentingan sosial, seorang sociopreneur membutuhkan modal, business plan, hingga sistem marketing yang jelas dan efektif agar berjalan konsisten hingga bertahun-tahun dan semakin besar dampak positif yang dihasilkan.

Keberhasilan seorang sociopreneur tidak hanya dilihat dari profit atau keuntungan saja, juga dampak yang dihasilkan dari usahanya.

"Kalau tidak bisa menghasilkan keuntungan finansial dari usahanya, bagaimana mungkin bisa terus melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar? Saya sangat bahagia ketika banyak orang yang meneima manfaat dari usaha ini,” katanya.

Angkie yang memperoleh penghargaan "Asia's Top Outstanding Women Marketeer of The Year" dari Asia Marketing Federation itu mengaku bersyukur atas kesempatan yang diberikan Presiden Jokowi terhadap dirinya menjadi salah satu anggota staf khusus presiden.

Dia bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan akan sepenuh hati membantu Presiden Jokowi mewujudkan misi menuju Indonesia inklusif yang lebih ramah penyandang disabilitas.

"Sudah waktunya disabilitas bukan kelompok minoritas tetapi kita dianggap setara," ucap Angkie.



Sumber: ANTARA, Beritasatu.com