Fahri Hamzah Nilai Pengangkatan Stafsus Milenial Masih Pincang dan Maya

Fahri Hamzah Nilai Pengangkatan Stafsus Milenial Masih Pincang dan Maya
Fahri Hamzah ( Foto: Antara/Yudhi Mahatma )
Markus Junianto Sihaloho / RSAT Jumat, 22 November 2019 | 13:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com  - Mantan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, meragukan keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengangkat sejumlah anak muda menjadi staf khusus (stafsus) milenial, akan mampu menginspirasi anak-anak muda lainnya.

Fahri menduga Presiden Jokowi sebenarnya hanya ingin mengajak anak-anak muda itu sebagai etalase. Yakni agar dianggap sebagai duta dari anak muda milienal.

"Yang oleh presiden dianggap punya keahlian tertentu atau prestasi tertentu untuk dikomunikasikan dan mendorong anak muda untuk berkiprah dan berani ambil tindakan maju," kata Fahri, Jumat (22/11/2019).

Namun sebenarnya, lanjut Fahri, pekerjaan stafsus presiden itu bukan pekerjaan yang mentolerir kapasitas yang tidak memadai. Mereka sebenarnya harus betul-betul orang-orang yang bisa memberikan keahlian, advis, serta talenta untuk membantu Presiden.

Tapi kalaupun keinginan presiden itu diikuti, lanjut Fahri, masih disayangkan juga.

"Sayangnya, semua (stafsus, red) ini adalah wajah digital, sementara digital itu menurut saya bukanlah persoalan dasar bangsa Indonesia. Persoalan dasar bangsa indonesia adalah sektor riil," kata Fahri.

Jadi seharusnya yang diangkat adalah mereka yang mampu memproduksi secara riil apa yang rakyat makan, yang rakyat pakai, dan sebagainya. Baginya, ekonomi digital tak menjamin surplus sektor produksi.

Justru Fahri melihat bahwa keputusan Jokowi ini akan makin mendorong Indonesia menjadi bangsa konsumen semata. Sebab industri digital justru menjadi alat masuk bagi produk asing semakin masif ke Indonesia.

"Ini akan mematikan semangat kita jadi produsen di negara kita sendiri. Sehingga pertanian kita mundur, peternakan mundur, kelautan, perkebunan, manufaktur, semuanya mundur," ujarnya.

Artinya, lanjut dia, seharusnya Presiden Jokowi tak sekadar memikirkan anak muda didorong masuk industri digital. Namun juga masuk ke sektor produksi riil di pertanian, manufaktur, dan lain-lain.

"Jadi kalaupun anak-anak muda ini jadi etalase, harus yang lengkap, tidak sepihak, tidak pincang, tidak maya," kata Fahri.

"Sebenarnya anak-anak muda ini yang dipilih bukanlah anak yang bisa ditiru oleh seluruh masyarakat Indonesia yang mayoritas masih hidup di pedesaan dan daerah. Sementara anak-anak muda ini (yang diangkat menjadi stafsus, red) kebanyakan anak perkotaan yang tumbuh dengan teknologi dan pengetahuan yang lebih dari yang lainnya," beber Fahri.



Sumber: BeritaSatu.com