BPIP Ingin Pancasila Diajarkan di Paud hingga Perguruan Tinggi

BPIP Ingin Pancasila Diajarkan di Paud hingga Perguruan Tinggi
Ilustrasi Pancasila ( Foto: istimewa / istimewa )
Hotman Siregar / WBP Senin, 25 November 2019 | 14:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Haryono mengatakan bahwa pascareformasi arus utama Pancasila mengalami perubahan. Bahkan di UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Pancasila tidak menjadi mata pelajaran wajib.

"Demikian pula di perguruan tinggi. Pancasila tidak menjadi mata kuliah wajib. Dampaknya, antara lain minggu yang lalu ketika kedeputian hukum itu berdiskusi dengan pakar hukum, khususnya dekan fakultas hukum, ada pengakuan jujur seorang dekan yang mengatakan pak, ketika saya S1, tidak dapat mata pelajaran Pancasila, begitu pula saat S2, dan S3," ujar Haryono dalam paparannya dengan Komisi II DPR di kompleks parlemen, Senayan Jakarta, Senin (25/11/2019).

Padahal, kata Haryono, sesuai dengan UU Nomor 14 tahun 2011, Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum. Dia mengaku tak bisa membayangkan kalau pakar hukum belum paham tentang Pancasila. Bagaimana memposisikan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum. Hal itu menurutnya betapa strategisnya Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

BPIP, kata Haryono ingin dukungan menjadikan Pancasila sebagai mata pelajaran wajib dari Paud sampai Perguruan Tinggi. Tentunya dengan cara dan model yang tidak bersifat indoktrinatif, tapi melalui cara-cara yang lebih kontekstual dan persuasif.

Ia memberi contoh bahwa sudah ada koordinasi dengan mengundang beberapa pendongeng. Jangan sampai nilai-nilai pendongeng dalam masyarakat masih diwarnai dengan nilai yang bertentangan Pancasila.

"Kita ambil contohnya, Kancil itu kehidupannya penuh kelicikan, tapi mengapa itu menjadi cerita rakyat sehingga ada salah satu pendongeng yang mengusulkan kepada kami yaitu Kancil minta maaf. Dengan minta maaf, binatang itu bisa bersatu, sehingga mereka bisa maju. Dengan demikian seniman-seniman dan budayawan kita minta ketika melakukan narasi cerita rakyat itu tidak bersifat tragedi. tapi menjadi visioner," tanda Haryono.



Sumber: Suara Pembaruan