Akbar Tandjung Sebut Terlalu Dini Usung Airlangga Jadi Capres 2024

Akbar Tandjung Sebut Terlalu Dini Usung Airlangga Jadi Capres 2024
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kanan) berjabat tangan dengan Ketua MPR Bambang Soesatyo (kedua kanan) yang disaksikan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie (ketiga kanan) dan Tokoh Senior Partai Golkar Akbar Tanjung, pada pembukaan Rapimnas Partai Golkar di Jakarta, Kamis (14/11/2019). (Foto: ANTARA / Muhammad Adimaja)
Yustinus Paat / JAS Rabu, 4 Desember 2019 | 19:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Akbar Tandjung menilai usulan sebagian DPD I dan DPD II Partai Golkar yang mendorong Ketum Airlangga Hartarto menjadi calon presiden Pemilu 2024 terlalu dini. Menurut Akbar, lebih baik Partai Golkar ke depannya fokus untuk mengembalikan kejayaan partai dan meningkatkan perolehan suara partai.

"Kalau menurut saya yang prioritas tugas utama kita ke depan adalah menaikkan suara Golkar dan syukur-syukur kita kembali menjadi pemenang. Kalau kita menjadi pemenang akan lebih mudah kita untuk mencari alternatif atau menetapkan capres kita," ujar Akbar di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (4/12/2019).

Partai Golkar, kata Akbar, perlu belajar dari pengalaman sebelumnya, yang pernah menerapkan strategi menentukan figur capres lebih awal untuk menaikkan elektabilitas partai. Namun, strategi tersebut gagal. Pengalaman yang dimaksud Akbar adalah pada saat Aburizal Bakrie dicalonkan menjadi capres 2009.

"Pada kenyataan turun kan (perolehan suara). Menjadi tidak fokus pada agenda utama kita," tandas dia.

Apalagi, kata Akbar, dalam tiga kali pemilihan umum (pemilu) suara Golkar cenderung menurun. Karena itu, kata dia, seharusnya fokus kader Golkar dan partai Golkar secara organisasi ke depan adalah meningkatkan perolehan suara Golkar di Pemilu.

"Kita tiga kali pemilu terus mengalami penurunan. Jadi harus fokus kita menaikkan perolehan suara," terang dia.

Lebih lanjut, Akbar menyebutkan beberapa hal yang menyebabkan menurunnya perolehan suara Golkar selama ini, yakni tidak fokus pada agenda utama, perpecahan internal, dan banyak kader tersandung kasus korupsi.

"Iya kita tidak pernah mengkaji apa yang menjadi kelemahan kita. Ke depan harus bangun soliditas, menyiapkan kader terbaik dan mengangkat isu yang sejalan dengan rakyat," pungkas Akbar.