Soal Capres, Airlangga Tegaskan Fokus Sukseskan Pemerintahan Jokowi

Soal Capres, Airlangga Tegaskan Fokus Sukseskan Pemerintahan Jokowi
Ketua umum Partai Golkar Airlangga Hartarto memberikan pidato politiknya dalam pembukaan Munas ke X Partai Golkar di Jakarta, Selasa 3 Desember 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao )
Robertus Wardi / YUD Kamis, 5 Desember 2019 | 10:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum (Ketum) terpilih Partai Golkar (PG) Airlangga Hartarto mengapresiasi atas permintaan dan dukungan dari para pengurus Golkar agar dirinya menjadi Calon Presiden (Capres) 2024. Namun dia mengatakan masalah Capres bergantung keputusan Musyawarah Nasional (Munas). Dia menegaskan tugas berat yang ia lakukan lima tahun ke depan adalah menyukseskan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin.

"Kita menata sesuai dengan jadwal yang ada. Itu jawabnya bukan sekarang. Nanti kalau dorongan alhamdulillah tetapi tentu kita melihat proses-proses yang ada," kata Airlangga usai terpilih kembali sebagai Ketum dalam Munas yang digelar di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (4/12/2019) malam.

Ia menjelaskan tugas berat ke depan adalah mengelola partai agar tetap solid. Alasannya soliditas menjadi kunci dalam meningkatkan suara Golkar ke depan. Tugas berat lainnya adalah menjaga dan mengawal pemerintahan Jokowi dan Ma'ruf Amin supaya lancar dan sukses.

"Program jangka pendek terkait dengan omnibus law di bidang Cipta Karya, di bidang perpajakan sehingga pertumbuhan ekonomi bisa terjaga baik dan lapangan kerja bisa tersedia," ujar Airlangga yang juga Menko Perekonomian ini.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Dewan Kehormatan Akbar Tanjung mengemukakan tugas utama Golkar ke depan adalah menaikan perolehan suara Golkar dan menjadi pemenang pada Pemilu 2024. Jika sudah menjadi pemenang, relatif mudah mencari dan menetapkan Capres.

"Prioritas utama adalah naikkan perolehan suara. Kita sudah 3-4 kali pemilu mengalami penurunan. Nanti ada waktunya akan kita bicarakan Capres. Kalau pagi-pagi sekali kita bicarakan itu, nanti kita tidak fokus. Lebih baik kita fokus dulu apa yang jadi kepentingan utama organisasi kita, yaitu kita naikan perolehan suara dan Insy Allah kita jadi pemenang," ujar Mantan Ketum PG ini.

Dia menyebut pengalaman Aburizal Bakrie (ARB) dalam memperjuangkan dirinya sebagai Capres. Menurutnya ARB terlalu cepat deklarasikan Capres. Akibatnya tidak fokus bekerja menaikkan suara PG.

"Saya pikir sebaiknya kita fokus. Pengalaman kita juga mengatakan begitu. Sama pada tahun berapa itu kita mencalonkan ARB sebagai presiden tetapi perolehan suara kita turun. Itu jadi enggak fokus apa yg menjadi agenda utama kita. Kita pernah jadi pemenang pada tahun 2004, sehingga fokus kita di situ saja," jelasnya.

Saat ditanya penyebab suara Golkar terus turun, dia katakan itu menjadi tugas ke depan. Dewan Pimpinan Pusat harus meneliti apa penyebabnya dan mencarikan solusi menaikkan perolehan suara.

"Kita tidak mengkaji dimana kekurangan dan kelemahan kita pada sebelumnya. Akibatnya kita tidak fokus hadapi agenda berikutnya. Fokus menghadapi agenda berikutnya jika kita bisa bangun soliditas partai. Kemudian menyiapkan kader untuk jadi penerus, dan angkat isu-isu yang sejalan dengan aspirasi rakyat," tutup Akbar.

Pernyataan serupa disampaikan Sekjen Partai Golkar (PG) Lodewijk Freidrich Paulus. Sama seperti Akbar, dia menyebut terlalu dini mencalonkan Airlangga Hartarto sebagai Calon Presiden (Capres) 2024. PG masih fokus pada kerja-kerja politik lima tahun mendatang. Yang sudah ditunggu di depan mata adalah memenangkan Pilkada serentak 2020.

"Jadi sebenarnya kan itu wacana, tapi saya katakan terlalu dini kita menceritakan atau mencalonkan pak Airlangga sebagai sebagai calon seorang presiden. Kita selesaikan dulu step by step. Tahun 2020 ini kita akan menghadapi pilkada serentak di 270 titik. Ya kita pegang itu saja dulu," kata Lodewijk.

Ia mengemukakan wacana boleh saja disampaikan. Para penggurus daerah juga punya hak untuk menyampaikan hal itu. Namun kerja politik harus tidak bisa langsung ke Capres.

"Mari kita konsentrasi menghadapi pilkada 2020. Kalau kita bisa menang banyak, nah itu juga akan menentukan kontestasi pada 2024 nanti. Karena kalau kita bisa mendapatkan seoptimalkan kepala daerah itu kan akan sangat membantu untuk infrastruktur kita ke depan," jelas Lodewijk.

Selain masalah pilkada, lanjut Lodewijk, yang harus dilakukan Ketum kedepan adalah mengangkat kembali suara Golkar. Golkar harus memanfaatkan semua jaringan dan infrastruktur partai.

"Kita tahu Golkar punya konsep untuk menggarap akar rumput. Jadi kita punya infrastruktur di desa, kelompok kekaryaan (Pokar), karya fungsional (Karsinal), kader teritorial desa. Nah itu yang harus kita bangun, karena di desa inilah awal kita membangun infrastruktur, dan disitulah akar rumput," tutur mantan Danjen Kopassus ini.

Dia yakin setelah semua digarap dan terbangun kembali maka dengan mudah 10 Ormas yang ada dalam PG merekrut mereka menjadi kader. Jika 10 Ormas tersebut bisa 20 orang setiap desa maka akan menjadi kekuatan yang besar bagi Partai Golkar.
"Nah dari situ mulai dikembangkan lagi. Jadi akar rumput yang harus dibina," tutup Lodewijk.

Sebelumnya, Airlangga Hartarto kembali terpilih menjadi Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar (PG) periode 2019-2024. Airlangga dipilih secara aklamasi dalam Musyawarah Nasional (Munas) PG di Hotel Ritz Chalton, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (4/12/2019) malam.

Penetapan Airlangga dilakukan setelah seluruh penggurus daerah memberikan pemandangan umum terhadap Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Airlangga periode 2014-2019.

Dalam pandangan umum, semua penggurus daerah yang merupakan pemilik suara mengusulkan hanya Airlangga sebagai Calon Ketua Umum. Dalam pandangan umum, semua penggurus daerah meneriman LPJ dari Airlangga dan tidak mengusulkan nama lain di luar Airlangga. Satu calon tersisa yang tidak mengundurkan diri yaitu Ridwan Hisjam sama sekali tidak diusulkan oleh pemilik suara. Semuanya satu suara hanya mengusulkan Airlangga.

Atas hasil itu, Aziz Syamsuddin selaku pemimpin sidang meminta persetujuan kepada seluruh peserta Munas untuk menentapkan Airlangga sebagai Ketum. Hal itu juga sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga partai bahwa jika seluruh peserta Munas menyatakan calon tunggal maka langsung ditetapkan.

"Apakah ada calon lain selain pak Airlangga?" tanya Aziz.

"Tidak," jawab seluruh peserta Munas.

"Bisa langsung tetapkan sebagai calon tunggal?" tanya Aziz.

"Bisa dan sahkan," jawab peserta Munas.

Dengan jawaban itu, Aziz lalu mengetok palu penetapan Airlangga sebagai Ketum untuk kedua kalinya. Dengan itu pula, pencalonan Ridwan ditiadakan.

Rapat penetapan berlangsung hingga pukul 23.30 WIB. Rapat dihadiri seluruh peserta Munas dan dihadiri tokoh senior PG seperti Aburizal Bakrie, Akbar Tanjung, Agung Laksono.



Sumber: Suara Pembaruan