Kongres, Momentum PAN Deklarasikan Diri Sebagai Oposisi

Kongres, Momentum PAN Deklarasikan Diri Sebagai Oposisi
Zulkifli Hasan (tengah) bersama pengurus Partai Amanat Nasional (PAN). (Foto: B1/Markus Sihaloho)
Fana Suparman / JAS Jumat, 6 Desember 2019 | 14:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Partai Amanat Nasional (PAN) bakal menggelar Kongres ke-5 dalam waktu dekat. Selain memilih Ketua Umum, Kongres tersebut dapat menjadi momentum bagi PAN untuk mendeklarasikan diri sebagai partai oposisi.

"Kalau meliat kecenderungannya PAN sebaiknya berada di luar kekuasaan, menndeklarasikan diri sebagai oposisi seperti PKS. Itu jelas jenis kelaminnya," kata pengamat politik, Adi Prayitno usai diskusi di Jakarta, Kamis (5/12/2019).

Adi yang juga Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia menyatakan, PAN tidak bisa terus-menerus mendukung pemerintah tanpa syarat. Menurutnya, tidak ada keuntungan apapun yang diperoleh PAN dengan posisinya saat ini.

Apalagi, tidak ada satupun kader PAN yang masuk dalam Kabinet Indonesia Maju. Sementara, sebagian besar kader PAN lebih cenderung mengarah pada oposisi.

"Politik itu soal untung rugi bukan soal jalan ingin masuk surga. Jarang ada yang mendukung pemerintah tanpa konsesi. Karena PAN tidak dapat apapun, ya sekalian saja jadi oposisi, tentu oposisi yang kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan. Bukan hanya sebatas oposisi biasa," katanya.

Menjadi oposisi, kata Adi merupakan pilihan paling realistis dan menguntungkan PAN. Dengan menjadi bagian pendukung pemerintah, PAN dipastikan akan tenggelam di antara partai-partai pendukung pemerintah lainnya seperti PDIP, Golkar dan lainnya. Sebaliknya, dengan memosisikan diri sebagai oposisi, Adi meyakini PAN bakal mendapat keuntungan menghadapi Pemilu 2024.

"Di situlah satu positioning PAN menjadi penting untuk menyambut lima tahun ke depan di 2024. Karena suka tidak suka kalau melihat aktivis kecenderungan PAN itu memang bakatnya oposisi. Sejak Pilpres sampai sekarang itu bakatnya oposisi. Bukan menjadi bagian dari Pak Jokowi," kata Adi.

"Untuk itulah siapapun yang jadi Ketua Umum PAN nanti kalau PAN berada di luar kekuasaan, insentif elektoral jauh lebih menguntungkan ketimbang berada di dalam kekuasaan," katanya.

Adi meyakini PAN memiliki sumber daya yang memadai untuk bertahan sebagai oposisi selama lima tahun mendatang. Dikatakan, PAN dapat memanfaatkan basis politiknya di Muhammadiyah untuk menjadi oposisi.

"Itu jaringan yang bisa dikapitalisasi PAN membangun umat tanpa modal. Tapi membangun umat atas dasar kesukarelaan. Dan saya kira PAN besar sejak dulu bukan karena logistik dan bukan karena uang, tetapi membangun jamaah-jamaah basis Islam yang selama ini mendukung PAN," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan