Hasto: Modernisasi Jangan Hilangkan Jati Diri Bangsa

Hasto: Modernisasi Jangan Hilangkan Jati Diri Bangsa
Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto saat diskusi bertema "Jember Menyiapkan Era Difinalisasi 4."0 yang diselenggarakan Lembaga Pemikiran Islam Bung Karno (LPI-BK) di Jember, Jawa Timur, Minggu, 8 Desember 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Minggu, 8 Desember 2019 | 19:46 WIB

Jember, Beritasatu.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyadari bahwa modernisasi menuju era revolusi 4.0 adalah syarat mutlak yang harus diikuti Indonesia agar tak tertinggal. Hanya saja, Hasto mengingatkan, Indonesia sebagai bangsa tak boleh kehilangan jati negara dalam mencapai modernisasi itu.

"Mau era 4.0 atau 5.0, itu sebenarnya hanya alat bagi negara untuk mencapai tujuan. Namun, yang terpenting bagi kita adalah kemajuan yang menjadi jati diri sebagai bangsa," kata Hasto dalam acara diskusi bertema "Jember Menyiapkan Era Digitalisasi 4.0" yang diselenggarakan Lembaga Pemikiran Islam Bung Karno (LPI-BK) di Jember, Jawa Timur, Minggu (8/12/2019).

Hasto mengingatkan, Indonesia sudah melangkah sebagai negara maju pada abad VII sampai abad XV. Banyak peninggalan bersejarah yang menunjukkan kemajuan yang belum dilakukan oleh negara lain, seperti pembangunan Candi Borobudur, artefak, prasasti, dan arca yang bentuknya sangat mendetail.

Bahkan, Hasto tidak bisa memikirkan bagaimana orang pada zaman itu membuat benda yang sangat sulit mengingat teknologinya belum ada. Namun, Hasto kembali berpikir bahwa mental masyarakat saat itu sangat berpegang pada kekuatan luhur Nusantara.

Pada abad VII dan VIII pula, Indonesia sudah mencapai puncak peradaban. Rempah-rempah dan jalur perdagangan sudah mengarungi lautan lepas. "Kapal-kapal kita juga sudah mampu mengarungi samudera. Rempah-rempah kita sudah melawati one road one belt yang digagas Tiongkok," tambah Hasto.

Contoh lainnya, Hasto melihat banyak budaya dan agama ketika masuk di Indonesia membawa semangat Nusantara itu sendiri. Borobudur adalah contoh nyata di mana saat itu India tengah dilanda konflik tetapi perwujudan bangunannya diserap secara damai di Indonesia.

Politikus asal Yogyakarta ini juga mengatakan, Islam masuk lewat budaya Nusantara. Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Sanga, menggunakan wayang untuk memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi dan budaya Jawa saat itu. "Akhirnya, Islam masuk dalam kontemplasi Jawa tanpa menggunakan konflik di Indonesia," jelas Hasto.

Selain itu, Hasto menekankan bahwa Pancasila merupakan hasil perenungan Soekarno dengan menggali seluruh mutiara peradaban bangsa, budaya, dan akar Nusantara itu sendiri. Ideologi tersebut menawarkan persatuan bukan hanya untuk Indonesia, tetapi dunia.

Sebab, ujarnya, Indonesia sepanjang sejarah, selalu menerima perbedaan dan menjadi tamu yang baik. "Kalau ada konflik, itu pasti ada aktor-aktor politiknya," tambah Hasto.

Oleh karena itu, Hasto mengajak anak-anak muda untuk memahami jati diri bangsa. Dia meyakini modernisasi hanya alat bagi bangsa, namun hakekat yang harus dijaga adalah jati diri bangsa.

"Kita jangan hilang jati diri karena kita akan terseret arus globalisasi. Kita jangan sekadar ikut-ikutan digitalisasi 4.0, tetapi kita harus berakar kuat pada kebudayaan sendiri. Kita bisa menjadi bangsa yang kuat kalau kita berdiri bersama rekam jejak sejarahnya," kata Hasto.

Dalam acara diskusi ini, hadir anggota DPR dari Dapil Jawa Timur sekaligus Ketua Umum Pagar Nusa Nabil Haroen, Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kemkominfo Ismail Ahmad, Ketua LPI-BK Ali Assegaf, dan Zuhairi Misrawi.



Sumber: Suara Pembaruan