Hasto Mengenang Semangat Persaudaraan Habib Sholeh

Hasto Mengenang Semangat Persaudaraan Habib Sholeh
Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto saat menghadiri peringatan seratus hari meninggalnya Habib Sholeh Almuhdar di Desa Karangsemanding, Balung, Jember, Jawa Timur, Minggu, 8 Desember 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Minggu, 8 Desember 2019 | 21:36 WIB

Jember, Beritasatu.com - Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menghadiri peringatan 100 hari meninggalnya Habib Sholeh Almuhdar di Desa Karangsemanding, Balung, Jember, Jawa Timur, Minggu (8/12/2019) malam. Dalam kesempatan ini, Hasto mengenang sahabatnya itu sebagai sosok terdepan dalam memperjuangkan persaudaraan dan persatuan.

Hasto menyampaikan itu di hadapan ratusan petakziah yang hadir, yakni sejumlah ulama, forum koordinasi pimpinan daerah setempat, dan tokoh masyarakat. Tokoh-tokoh yang hadir, antara lain Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, anggota DPR sekaligus Ketua Umum Pagar Nusa M Nabil Haroen, intelektual NU Zuhairi Misrawi, dan Habib Husen Bin Muhdar Almuhdar. Acara itu digelar di depan rumah kakak almarhum, yaitu Habib Ahmad bin Hasan Almuhdar.

"Ibu Megawati Soekarnopturi saat tahu beliau wafat langsung menyuruh kami ke Situbondo. Saat mendengar kabar itu, kami sangat kehilangan. Beliau pejuang kebenaran dan selalu menolong setiap orang yang datang bertemu beliau," kata Hasto.

Hasto mengenal dengan dekat salah satu tim internal calon wakil presiden KH Ma';uf Amin saat kampanye Pemilu 2019. Hasto banyak belajar tentang makna persahabatan dari Habib Sholeh. Namun, di sisi lain, Habib Sholeh sangat garang ketika menentang segala paham yang memecah belah bangsa.

"Habib Sholeh dibesarkan NU dan dekat dengan almarhum Gus Dur. Beliau selalu menggelorakan semangat Islam rahmatan lilalamin serta meyakini bahwa Islam dan nasionalis tak bisa dipisahkan," jelas dia.

Pada masa kampanye lalu, Habib Sholeh kerap melakukan safari di sejumlah daerah. Di beberapa tempat, Habib Sholeh mampu membuka pintu persahabatan antara PDIP dan tokoh muslim setempat. Hasto menyadari bahwa PDIP kerap diserang fitnah tentang agama pada kala itu.

"Malam ini, kami rajut persaudaraan di tempat ini. Kami percaya apa yang beliau perjuangankan tak sia-sia. Ini cerminan kepemimpinan Indonesia kita, yaitu kekuatan besar antara umara dan ulama," jelas Hasto.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menambahkan, perjuangan Habib Sholeh dalam memerangi fitnah terhadap PDIP merupakan jasa yang tidak bisa dilupakan. Anas yang merupakan politikus PDIP itu menilai agenda ini adalah bentuk perhatian yang mendalam terhadap perjuangan Habib Sholeh.

"Ketua Umum PDIP Ibu Megawati juga peduli untuk mereka yang mendarmakan diri bagi negara dan PDIP. Mudah-mudahan, kita doakan, Habib Sholeh husnul khatimah," jelas dia.

Anas juga menilai persahabatan antara Hasto dengan Habib Sholeh perlu dicontoh. Sebab, persahabatan keduanya abadi meski sudah berbeda dunia. "Saya tahu, Pak Sekjen ini sibuknya luar biasa di Jakarta. Tetapi, untuk memberikan nilai persahabatan itu sendiri, beliau mau datang jauh-jauh ke sini," kata Anas.

Sementara itu, Habib Husen Bin Muhdar Almuhdar mengibaratkan Habib Sholeh sebagai pemadam kebakaran di tengah krisis SARA belakangan ini. Habib Sholeh, menurut Habib Husen, tak segan-segan memerangi fitnah itu dengan langsung turun ke jalan.

"Mari kita doakan beliau. Habib Sholeh mematikan fitnah layaknya pemadam kebakaran. Dia membawa perdamaian. Menabur kasih sayang, seperti ajaran Rasulullah. Bukan kebencian," tutur Habib Husen.



Sumber: Suara Pembaruan