Akademi Demokrat Didirikan untuk Kaderisasi

Akademi Demokrat Didirikan untuk Kaderisasi
Agus Harimurti Yudhoyono. ( Foto: Antara )
Carlos KY Paath / AO Minggu, 8 Desember 2019 | 22:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kaderisasi merupakan salah satu proses penting yang harus senantiasa dijalankan dalam proses transformasi partai politik (parpol). Regenerasi menjadi kunci untuk menjaring calon-calon pemimpin berpotensi.

Demikian disampaikan Ketua Panitia Seleksi Akademi Demokrat, Ni Luh Putu Caosa Indryani dalam keterangan yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Minggu (8/12/2019).

Caosa menjelaskan, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menggagas berdirinya Akademi Demokrat. Kala itu AHY masih menjabat sebagai Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Pemenangan Pemilu 2019 untuk Partai Demokrat.

Pendidikan di Akademi Demokrat angkatan pertama dikhususkan bagi anggota tim kampanye para calon anggota legislatif (caleg) yang berjuang di daerah pemilihan masing-masing pada Pemilu 2019.

Politisi, selain bersifat politis, juga merupakan profesi yang memerlukan standar profesionalisme tertentu, sehingga diperlukan pendidikan profesional. AHY pernah berdiskusi dengan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait hal tersebut.

“Akademi Demokrat dibentuk sebagai ujung tombak transformasi Partai Demokrat menjadi partai modern yang berasaskan nasional-religius melalui pendidikan profesional dan merit sistem. Jati diri Akademi Demokrat adalah sekolah pejuang, patriot, dan kader pemimpin bangsa,” ungkap Caosa.

Menurut Caosa, AHY menginginkan Akademi Demokrat menjadi bagian dari pendidikan politik dan cara PD dalam melakukan transformasi kepartaian ke arah yang lebih baik. Tujuan dari pendidikan ini yaitu menyiapkan sumber daya manusia yang unggul menggunakan sistem Tri Pola Dasar.

Tri Pola Dasar yang dimaksud yaitu pelatihan secara fisik, mental, dan intelektual. Pendidikan ini gratis, tidak dikenakan biaya untuk para siswa-siswinya. Siswa-siswi pendidikan disebut dengan panggilan Taruna, kepanjangan dari Tunas Muda Harapan Bangsa.

Sebelumnya, AHY menyatakan, gagasan Akademi Demokrat merupakan bagian besar dari cetak biru PD menjadi partai yang maju dan modern di masa depan. “Diawaki oleh kader-kader yang memiliki kapasitas dan integritas,” ungkap AHY.

Para Taruna harus melalui tiga tahapan pendidikan untuk mencapai kelulusan. Tahap Pratama (pendidikan dasar) berlangsung selama 14 hari. Taruna belajar menyelenggarakan kampanye yang efektif dan efisien.

Setelah melewati tahap pertama, Taruna melanjutkan pendidikan ke Tahap Madya (pendidikan lapangan), yang dilakukan selama lima bulan. Pada masa ini, Taruna menjadi bagian dari tim sukses para caleg di masing-masing dapil serta melaksanakan pembelajaran jarak jauh.

Pada 5-12 Desember 2019, para Taruna yang lolos pendidikan Tahap Pratama dan Tahap Madya, akan dilatih, dididik dan dibekali dengan berbagai materi. Para pengajar Akademi Demokrat merupakan kader PD atau profesional dengan strata pendidikan S-2 dan S-3.

Lulusan terbaik dalam dan luar negeri,  mulai dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Harvard University AS, Curtin University Australia, Nanyang Technological University Singapura, Norwich University AS, Queensland University Australia, King’s College Inggris, Webster University AS dan London School of Economic and Political Science (LSE) Inggris.

“Mereka kami siapkan dengan baik, juga dengan pelatihan dan penugasan di lapangan. Mudah-mudahan mereka bukan lagi sebagai penonton dalam panggung politik, namun juga menjadi pemain utama dalam tingkat nasional maupun daerah,” kata AHY.



Sumber: Suara Pembaruan