Pendiri PAN Minta Amien Rais Tak Bikin Recok Kongres

Pendiri PAN Minta Amien Rais Tak Bikin Recok Kongres
Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais ( Foto: Beritasatu TV )
Yustinus Paat / YUD Sabtu, 18 Januari 2020 | 21:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Abdillah Toha meminta agar Amien Rais tidak kembali ikut campur dengan urusan sistem demokrasi partai. Hal tersebut disampaikan oleh Toha saat menanggapi sikap Amien yang cenderung ikut campur terlalu dalam di PAN, di mana yang terakhir soal pelaksanaan kongres bulan depan.

"Ya sudahlah, yang lalu-lalu kan selalu ikut campur, itu kan urusan sistem demokrasi di partai. Sudah waktunyalah melepaskan ini ke yang muda-muda. Sudahlah Pak Amien jangan ikut campur lagi. Jangan ada tekanan-tekanan dari Pak Amien-lah, Pak Amien harus membiarkan, partai jangan tergantung ke Pak Amien," kata Abdillah, di Jakarta, Sabtu, (18/1/2020).

Baca juga: Bursa Ketum PAN, Pengamat Sebut Ada yang Dompleng Amien Rais

Abdillah mengungkapkan bahwa banyak pihak yang merasa keberatan dengan tekanan yang dilakukan Amien selama ini. Meskipun, dalam hal ini, dia tak menjelaskan apa saja tekanan tersebut.

"Ya tafsirkan sendiri ikut campurnya bagaimana? Banyak yang keberatan. Bikin ruwet," tegas Abdillah.

Rakernas PAN direncanakan akan berlangsung pada 12 Februari 2020 di Sulawesi Tenggara. Sejumlah nama Ketua Umum baru periode 2020-2025 sudah bermunculan yakni Zulkifli Hasan, Mulfachri Harahap, dan Asman Abnur.

Baca juga: Pengamat: Tren Caketum Petahana Kembali Terpilih, PAN Diprediksi Aklamasi

Menariknya salah satu calon yakni Mulfachri Hararap akan berpasangan dan maju dengan Putra Amien Rais yakni Hanafi Rais sebagai Sekjen.

Menanggapi hal itu, Pengamat Politik Universitas Al-azhar Ujang Komarudin menilai majunya Hanafi berpasangan dengan Mulfachri merupakan upaya Amien Rais untuk membangun dinasti politik.

"Kasus dinasti politik di Indonesia masih banyak diwarnai dinasti politik yang buruk. Karena banyak pejabat yang dihasilkan dari dinasti politik itu korup dan cenderung membangun oligarki," tegas Ujang.

Ujang menambahkan dinasti politik biasanya juga akan menyebabkan kinerja partai tersebut melempem alias tidak berkembang.

"Jika yang diangkat dari kalangan keluarganya tak punya kemampuan, lalu kinerjanya melempem," tandas Ujang.



Sumber: BeritaSatu.com