Pengamat: Seleksi Terbuka ala PSI Membuat Politik Tidak Lagi Menakutkan

Pengamat: Seleksi Terbuka ala PSI Membuat Politik Tidak Lagi Menakutkan
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menggelar seleksi terbuka untuk menjaring bakal calon Wali Kota/Wakil Wali Kota Surabaya di Basecamp DPP PSI, Jakarta Pusat, Minggu (19/1/2020). ( Foto: Ist )
Yustinus Paat / FMB Minggu, 19 Januari 2020 | 21:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menggelar seleksi terbuka untuk menjaring bakal calon Wali Kota/Wakil Wali Kota Surabaya. Sebanyak 12 peserta konvensi PSI menjalani wawancara dengan para panelis.

Panelis independen, Djayadi Hanan, menyebut mekanisme konvensi PSI berhasil membuka ruang kontestasi politik yang setara. Terlihat dari latar belakang profesi peserta konvensi yang beragam, mulai dari pengacara, seniman, pedagang, aktivis, dan akademisi.

“Sampai hari ini, saya kira PSI sudah berhasil menarik banyak orang dari berbagai latar belakang itu, dan mereka jadi tidak takut untuk masuk politik. Jadi, salah satu keberhasilan PSI adalah membuat politik tidak tampak menyeramkan bagi orang-orang yang punya keinginan dan berpotensi menjadi pemimpin daerah,” ujar Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) itu dalam konferensi pers di sela-sela seleksi terbuka di Basecamp DPP PSI, Jakarta Pusat, Minggu (19/1/2020).

Pernyataan apresiatif juga dilontarkan Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J. Vermonte. Dia melihat, lewat penjaringan bakal calon kepala daerah yang terbuka, transparan, dan tanpa mahar, PSI memperlihatkan diri sebagai partai modern dan rasional.

“Yang terjadi adalah PSI memperlihatkan diri sebagai partai yang modern, dengan cara pandang yang berbeda dari partai lain. Karena apa? Di dua daerah ini, Tangerang Selatan dan Surabaya, saya perhatikan memang karakter pemilih PSI-nya sama. Jadi kenapa PSI dapat kursi di daerah itu? Karena DNA PSI-nya itu nyambung dengan banyak sekali pemilih. Jadi PSI telah memperlihatkan diri sebagai partai yang rasional,” kata Philips.

Hal menarik lain, proses konvensi ini membuat prosedur politik menjadi sangat transparan. Proses pemilihan kepala daerah itu menjadi ruang kaca di mana tidak ada lagi misteri di situ.

“Kita jadi tahu latar belakang seorang kandidat, duitnya berapa, mau melakukan apa untuk Surabaya. Ini yang membuat saya optimis, siapa pun yang terpilih, kita sudah tahu kualitasnya,” tandas akademisi Indonesia yang berkiprah di sebagai pengajar di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir.

Selama wawancara, peserta konvensi menerima berbagai pertanyaan seputar visi-misi, program andalan, juga strategi untuk menjadi Wali Kota/Wakil Wali Kota. Tidak hanya panelis independen, Ketua Umum DPP PSI Grace Natalie, Sekjen DPP PSI Raja Juli Antoni, Bendahara Umum DPP PSI Suci Mayang Sari juga ikut mewawancarai peserta.



Sumber: BeritaSatu.com