Sekjen Kemkominfo: Baca Media Arus Utama untuk Persatuan Bangsa

Sekjen Kemkominfo: Baca Media Arus Utama untuk Persatuan Bangsa
Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Rosarita Niken Widiastuti berpidato pada acara Buka Tahun Baru Bersama Ke-15 2020 Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Lemhannas, Jakarta, Jumat, 17 Januari 2020. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Senin, 20 Januari 2020 | 00:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jika tidak ingin berita palsu semakin marak, masyarakat diimbau untuk membaca media mainstream (arus utama) agar persatuan Indonesia terjaga. Untuk itu, media arus utama perlu meningkatkan kepercayaan masyarakat. Alasannya adalah peran media sangat penting dan sangat strategis, apalagi sekarang ini kepercayaan publik kepada media terus meningkat dibandingkan kepercayaan publik terhadap media sosial (medsos).

Berdasarkan hasil penelitian dari Trust Barometer --sebuah lembaga internasional yang terpercaya-- kepercayaan publik Indonesia terhadap medsos (-)2, sedangkan kepercayaan publik terhadap media mainstream (+)5. Hasil ini merupakan kerja keras para pemimpin redaksi, jurnalis, dan jajaran redaksi media massa yang tidak kenal lelah dan waktu untuk menyajikan berita-berita yang terferivikasi.

Demikian ditegaskan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Komunikasi dan Informatika Rosarita Niken Widiastuti kepada ratusan wartawan lintas media yang menghadiri acara Buka Tahun Baru Bersama Ke-15 2020 Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI). Acara bertema “Mewujudkan Persatuan Indonesia dengan Kehendak Baik" itu digelar di gedung Dwi Warna Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta, Jumat (17/1/2020).

Kemkominfo, menurut Niken, mengharapkan sinergi atau kerja sama yang baik antara media atau para jurnalis dengan pemerintah, kementerian, lembaga-lembaga untuk mendapatkan berita dan data-data yang benar. Alasannya adalah media arus utama memiliki fungsi kontrol dengan memberikan klarifikasi atau sebagai pengecek fakta (fact checking) sekaligus pencerahan bagi masyarakat terhadap kebenaran suatu berita.

“Kita telah melewati masa-masa sulit pertarungan antara berita benar vs berita hoaks. Ini terkait dengan kondisi politik di Indonesia. Pada Agustus 2018 hoax yang beredar di Indonesia itu baru sekitar 25 jenis. Setiap bulan bertambah sampai awal 2019 hoax sudah berlipat ganda menjadi sekitar 129," ujarnya.

Dikatakan, pada 2019, mulai Agustus sampai Desember, hoax yang beredar mencapai 4.041. Provokasi dan ujaran kebencian berkembang dengan pesat. "Kita harus bersyukur bahwa Indonesia telah melewati masa-masa yang terberat mungkin dalam 20 tahun terakhir,” kata Niken.

Perubahan mendasar yang terjadi dalam era digital, Niken menjelaskan lebih lanjut, ditandai dengan maraknya media sosial. Semua orang atau masyarakat bisa menjadi “wartawan”, bisa menjadi pemilik media. Meskipun berbeda karakteristik dengan media arus utama, media sosial dapat memengaruhi masyarakat pembacanya dan berdampak pada dunia nyata.

Oleh karena itu, Niken menegaskan, media sosial bukan media arus utama yang berfungsi sebagai alat verifikasi kebenaran suatu berita. Oleh karena itu, jangan heran jika karena tak terverifikasi media sosial bisa memunculkan berita palsu, berita bohong, ujaran kebencian, provokasi, radikalisme, hingga terorisme.

Informasi-informasi itu seolah benar dan kemudian dipercaya oleh masyarakat. Pers berpacu bersama "banjir" bahkan "tsunami" informasi dari media sosial. Di sinilah peran pers sebagai alat cek fakta.

Dalam menghadapi media sosial, peran pers yang sangat penting adalah mencerahkan masyarakat karena berita hoax akan merugikan masyarakat. Sekjen Kemenkominfo ini menilai kerja keras dari media dan wartawan selama ini betul-betul dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap persatuan dan kesatuan Indonesia. Melalui berita-berita yang terpercaya, akurat, jelas masyarakat akan lari ke media mainstream daripada ke media sosial.

Dalam kesempatan itu, selaku pejabat pemerintah, Niken tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan wartawan yang tela hdan selalu mengawal kebenaran, mengawal data fakta yang terpercaya untuk memberikan kontribusi terhadap persatuan dan kesatuan.

Hadir dalam Buka Tahun Bersama PWKI itu Wagub Lemhannas Marsdya Wieko Syofyan, Kepala BNN Komjen Heru Winarko, Sekjen Kemkominfo Rosarita Niken Widiastuti, Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar, Wakabais Mayjen Handy Geniardi, Pangdam Jaya Mayjen Eko Margiyono, Mayjen Ilyas Alamsyah dari Universitas Pertahanan, Dirdok Kodiklat TNI Brigjen (Mar) Hasanuddin, dan Kolonel Laut (P) Yoos Suryono Hadi yang mewakili Gubernur AAL Laskda Edi Sucipto, Mayjen Ivan Pelealu dari Lemhannas, Ketua PWKI AM Putut Prabantoro, dan Ketua Panitia Acara Asni Ovier Dengen Paluin.

Juga tampak dalam acara itu Staf Ahli Kemhub Cris Kuntadi, Inspektur Utama Sekretariat Jenderal DPR Setyanta Nugraha, Staf Ahli Kemhan Taufik Dwi Cahyono, Staf Ahli Kemsos Sony W Manalu, dan IKAL Lemhannas PPSA XXI, Lina SE, Arriestyanto Nugroho, dr Ratna, serta dari kalangan pengusaha termasuk Ketua Umum Kadin Babel Thomas Jusman, Billyani Tania, Maya Damayanti, para pimpinan media seperti Primus Dorimulu (Berita Satu Media Holdings), Tri Agung Kristanto (Kompas), Maria Yuliana Benyamin (Bisnis Indonesia), Rosmery Sihombing (Media Indonesia), dan Hisar Sihotang (Media Transparancy).

Pada kesempatan itu, PWKI juga memberikan anugerah Terima Kasihku Kepadamu kepada lima tokoh nasional yang dianggap telah membuat Indonesia berwarna dan indah terkait keberagaman budaya, suku, dan agama. Lima tokoh itu adalah pegiat sosial yang juga Staf Khusus Presiden Gracia Billy Yosaphat Mambrasar, sutradara film Joko Anwar, politisi muda Hillary Brigitta Lasut, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, dan musisi Didi Kempot.



Sumber: Suara Pembaruan