Konferensi Nasional Forkoma PMKRI Fokus pada Dokumen Abu Dhabi

Konferensi Nasional Forkoma PMKRI Fokus  pada Dokumen Abu Dhabi
Peserta dialog interaktif pengurus Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) berfoto bersama di Margasiswa PMKRI Makassar, Minggu, 27 Januari 2020. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Rabu, 29 Januari 2020 | 09:41 WIB

Makasar, Beritasatu.com - Deklarasi Abu Dhabi tentang Human Fraternity for World Peace and Living Together yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus bersama Iman Besar Al Azhar Ahmad Al Tayyeb diusulkan menjadi tema sentral penyelenggaraan Konferensi Nasional Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 21-22 Maret 2020.

Pilihan tema tersebut mengemuka dalam sebuah dialog interaktif antara pengurus Forkoma dan PMKRI Makassar di Margasiswa PMKRI Makassar, Minggu (27/1/2020). Ketua Forkoma Makassar Yunggi Adrian Siri menegaskan kesediaannya untuk menjadi tuan rumah sekaligus mengusulkan Fendy Tandang untuk ditetapkan sebagai Ketua Panitia Pelaksana Konferensi Nasional tersebut.

Sementara itu, Ketua PMKRI Makassar, Pius Yolan menyambut baik pemilihan tema Konferensi Nasional Forkoma PMKRI. Pius berharap para anggota PMKRI mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam penyelenggaraan dan pembahasan tema tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Forkoma PMKRI Hermawi Taslim yang turut hadir dalam dialog tersebut menilai, deklarasi Abu Dhabi, sebutan lain untuk Dokumen Perdamaian tersebut, merupakan salah satu dokumen penting abad ini. Dokumen ini bisa dijadikan acuan bagi umat manusia untuk membangun persaudaraan sejati yang hakiki sebagai prasyarat bagi kemajuan peradaban umat manusia.

Taslim mengatakan, Forkoma PMKRI bersama PMKRI memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyosialisasikan deklarasi Abu Dhabi ini. Hal ini sesuai amanat yang diterimanya dalam pertemuannya dengan Markus Solo Kewuta SVD, Sekretaris Dewan Kepausan bidang Dialog AntarAgama pada awal Juni 2019.

Deklarasi Abu Dhabi berisi tentang Perdamaian itu berjudul “Documento Sulla – Fratellanza Umana Per Pace Mondiale E La Convivenza Comune” atau “Sebuah Dokumen tentang– Persaudaraan Umat Manusia Untuk Perdamaian dan Hidup Bersama”. Dokumen yang bersejarah ini diterjemahkan dalam tujuh bahasa, termasuk Inggris, Arab, Jerman dan Italia.

Menurut Markus Solo Kewuta SVD, Deklarasi Abu Dhabi merupakan sebuah dokumen yang memiliki makna propetis atau kenabian. Artinya, deklarasi tersebut memuat hal-hal yang merupakan batu sandungan di dalam perjalananan umat manusia menuju masyarakat yang damai, adil dan makmur secara kasat mata.

Batu sandungan itu dimuat secara sangat jelas atau nyata meskipun terasa sangat menyakitkan tetapi sekaligus ingin mengingatkan kepada umat manusia justru itulah masalah-masalah yang harus ditelusuri bersama secara jujur dan kita cari makna dan solusinya secara bersama-sama pula.

Oleh karena itu, dalam pertemuan dengan Markus Solo Kewuta, Forkoma akan mengadakan konferensi internasional perdamaian dengan melibatkan Alumni Cipayung. Konferensi itu rencananya diadakan di Roma Italia, Kairo Mesir, dan Jakarta.

Menurut Taslim, hasil konperensi Forkoma ini nantinya akan menjadi masukan penting bagi Forum Komunikasi Alumni-alumni Kelompok Cipayung yang akan melaksanakan konperensi international di tiga negara masing-masing Roma Italia -Mesir dan Indonesia.

Selain Forkoma, Forum Alumni Cipayung terdiri atas Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (PA GMNI), Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII), dan Pengurus Nasional Persatuan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PN PS-GMKI).



Sumber: Suara Pembaruan