Priyo Sebut Mendagri Pertimbangkan Pileg dan Pilpres Dipisah

Priyo Sebut Mendagri Pertimbangkan Pileg dan Pilpres Dipisah
Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso (tengah). ( Foto: Beritasatu / Dhika Ristyani )
Robertus Wardi / FER Rabu, 29 Januari 2020 | 16:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, tengah mempertimbangkan menerima usulan pemisahan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Pemisahan perlu agar fokus menghadapi Pileg atau Pilpres.

Tito Larang Kepala Daerah Mutasi Jelang Pilkada

"Tadi ada pikiran-pikiran dari pak Mendagri menyambut beberapa gagasan dari kami para sekjen, apakah patut masih dipertahankan sistem penilu serentak pada hari dan jam yang sama antara Pilpres dan Pileg. Kami para tujuh sekjen dan pak Mendagri ada kesamaan bahasa," kata Sekjen Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso, usai bertemu Tito di Kantor Kemdagri, Jakarta, Rabu (29/1/2020).

Selain Priyo, hadir pula enam perwakilan dari partai yang tidak lolos masuk parlemen. Mereka adalah Wakil Sekjen PSI, Satia Chandra Wiguna, Sekjen DPP Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Ahmad Rofiq, Sekjen DPP Partai Hati Nurani (Hanura) Rakyat Gede Pasek Suardika, dan Sekjen DPP Partai Bulan Bintang (PBB) Afriansyah Ferry Noor.

Priyo berharap, ke depan ada langkah politik yang nyata untuk mengoreksi beberapa pelaksanaan dari sistem politik pada Pemilu 2019 lalu. Tujuh parpol meminta sistem pemilu serentak dihapus.

KPU Akan Atur Penggunaan Rekapitulasi Elektronik

"Tadi kita urun-rembuk dan Mendagri menyambut positif. Kami bertujuh mengusulkan agar pemilihan serentak untuk pilpres dan pileg untuk kedepan ditiadakan alias dipisah. Jadi agar nanti pemilihan presiden di hari tertentu, pemilihan legislatif di hari tertentu lainnya," jelas Priyo.

Menurutnya, banyaknya petugas Tempat Pemumgutan Suara (TPS) yang meninggal pada Pemilu lalu karena Pileg dan Pilpres disatukan. Kondisi itu membuat mereka kelelahan karena merekapitulasi hasil Pileg dan Pilpres.

"Karena begitu diserempakan kemarin yang terjadi adalah sengkarut yang alang-kepalang luar biasa. Jadi jangan-jangan imbas dari wafatnya penyelenggara pemilu kita di lapangan yang jumlahnya sangat mengejutkan, jangan-jangan dimulai dari sistem semacam itu," ujarnya.

Mendagri Serahkan 105 Juta DP4 untuk Pilkada Serentak 2020

Priyo menambahkan, proses Pemilu 2019 lalu dinilai cukup panjang dan melelahkan. Kondisi itu terjadi, akibat dari pelaksanaan Pileg dan Pilpres yang digabung.

"Kita mencoba apakah jangan-jangan kemudian sistem yang kita bangun menyederhanakan sebuah pemilu untuk memilih presiden dan para pemimpin legislatif, jangan-jangan berimbas karena waktu yang begitu panjang dan terjadi kelelahan," tutup Priyo.




Sumber: Suara Pembaruan