Prabowo Ingin Gerindra Tak Hanya Jadi Pengkritik dan Penonton

Prabowo Ingin Gerindra Tak Hanya Jadi Pengkritik dan Penonton
Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto menyampaikan pengarahan dalam peringatan HUT ke-12 Partai Gerindra di Jakarta, Kamis (6/2/2020). ( Foto: Antara / Sigid Kurniawan )
Hotman Siregar / DAS Kamis, 6 Februari 2020 | 13:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Dewan pembina sekaligus Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, menginginkan Gerindra bukan berada di pinggir atau hanya menjadi penonton, pengamat atau pun pengkritik melainkan terjun ke kancah politik untuk melakukan perubahan pada bangsa dan negara.

Pada peringatan HUT ke-12 Partai Gerindra di Kantor DPP Pasar Minggu, Jaksel, Prabowo mengenang 12 tahun lalu saat ia bersama para pendiri lainnya mendirikan Partai Gerindra. Saat itu Prabowo mengaku diejek. Gerindra tak diperhitungkan. "12 tahun yang lalu dari tidak ada apa-apa, kita berkumpul dengan suatu gagasan besar. Gagasan ingin ikut mempengaruhi jalannya kehidupan bangsa dan negara," kata Prabowo, Kamis (6/2/2020).

"Waktu kita mendirikan partai dari segelintir orang, saudara Fadli Zon, Hashim Djojohadikusumo, Pak Muzani, hampir terlambat ke Kumham, cari gambar, cari nama. Ada kawan-kawan kita yang tertawakan kita," kata Prabowo.

Prabowo menceritakan orang-orang yang diajaknya mendirikan partai adalah mereka yang menjadi  kawannya yang berjuang dari kecil hingga ia bantu menjadi besar dengan memberi banyak proyek. "Orang-orang ini saya ajak ikut mendirikan partai, reaksi mereka ketawa. Mereka tanya apa? Partai apa itu? Gerindri, Gerindru? Ini demi Allah. Tapi kita tak ragu-ragu, kita tak berkecil hati, kita diejek, dihina, tapi kita terus berjuang untuk rakyat Indonesia," kata Prabowo.

Ia juga mengingat-ingat saat mengejar pendaftaran partai. Jawa Tengah sedang banjir dan harus mendaftar ke kecamatan dengan rakit. Di NTT ada kader yang meninggal saat mendaftar.

"Mendirikan partai ini ada yang berkorban bahkan dengan nyawa. Jadi dalam ultah yang ke-12 kita mengenang masa-masa yang sulit, masa-masa kita diejek, tidak diperhitungkan," kata Prabowo.

Prabowo menambahkan saat itu yang menjadi penggerak hanya cita-cita dan cinta pada Tanah Air, serta ketidakrelaan melihat negara di jalan yang tak benar, tak tepat dan tak sesuai cita-cita pendiri bangsa.



Sumber: Suara Pembaruan