Kelompok Cipayung Harus Kembali ke Kampus Bantu Program Deradikalisasi

Kelompok Cipayung Harus Kembali ke Kampus Bantu Program Deradikalisasi
Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Hermawi Taslim (tengah) berfoto bersama pengurus dan peserta Kongres PMKRI di Ambon, Maluku, Minggu, 9 Februari 2020. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Senin, 10 Februari 2020 | 11:27 WIB

Ambon, Beritasatu.com - Salah satu cara untuk melaksanakan deradikalisasi di kampus adalah dengan mengembalikan Kelompok Cipayung ke kampus. Kekosongan latihan politik di kampus oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Cipayung membuat kampus direbut oleh kelompok yang bergiat dengan mengatasnamakan agama.

“Oleh karena itu, prgram “Back to Campus” bagi kelompok Cipayung merupakan salah satu solusi yang ampuh untuk melakukan deradikalisasi,” ujar Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Hermawi Taslim yang hadir dalam Kongres PMKRI di Ambon, Maluku, Minggu (9/2/2020).

Menurut Taslim, membiarkan kampus kosong dari kegiatan politik para mahasiswa di kandangnya sendiri mengakibatkan masuknya kelompok garis keras yang berniat menguasai kampus. Padahal, kampus merupakan sarana yang tepat bagi para mahasiswa untuk belajar politik secara bijak dengan berpijak pada ideologi Pancasila.

Oleh karena itu, kata dia, sudah saatnya pemerintah memulihkan keberadaan organisasi extra universiter kembali ke basisnya di kampus. Tujuannya agar para mahasiswa secara bijak menularkan semangat keindonesiaan dan NKRI di kalangan mahasiswa.

Kelompok Cipayung, yang merupakan rumah bersama bagi organisasi ekstra kampus, seperti HMI, PMKRI, GMNI, GMKI, dan PMII telah membuktikan keberadaannya selama puluhan tahun setia kepada ideologi pancasila. Jika kehidupan kegiatan ekstra kampus dikembalikan lagi, pemerintah akan sangat terbantu oleh Kelompok Cipayung dalam program deradikalisasi.

“Saya yakin jika Kelompok Cipayung kembali ke kampus, proses deradikalisasi akan lebih cepat dan bersih dari pemikiran-pemikiran radikal dan ekstrem yang mengancam eksistensi ideologi Pancasila. Sepanjang sejarah perjalanan bangsa ini, telah terbukti bahwa organisasi ekstra kampus yang dikenal dengan sebutan Kelompok Cipayung merupakan pilar-pilar tanggung penjaga tegaknya Pancasila dan nasionalisme Indonesia,” ujar Taslim.

Dijelaskan, Indonesia perlu melihat Ambon yang sekarang disebut sebagai City of Music, City of Harmony, setelah terjadi konflik saudara yang mengatasnamakan agama. Kota ini selalu menjadi tempat tujuan berbagai acara nasional yang ingin memunculkan keharmonisan kehidupan bangsa, agama, suku, dan kelompok.

Oleh karena itu Taslim meyakini bahwa jika Kelompok Cipayung beraktivitas seperti era 1970-an, sudah pasti dunia kemahasiswaan akan lebih bergairah, lebih menawarkan visi nasionalime dan patriotisme melalui organisasi masing-masing. Kelompok Cipayung juga akan menjadi garda terdepan bagi tegaknya Pancasila di kampus-kampus.

“Zaman sudah berubah dan kita bisa melihat dampak kerusakan dengan ditinggalkannya kampus oleh Kelompok Cipayung. Praktis dinamika mahasiswa tidak ada dan mahasiswa dibiarkan mandul tidak mengerti masalah apa yang dihadapi oleh bangsa dan negara Indonesia senyatanya. Kita tidak ingin kekosongan itu dicuri lagi oleh kelompok yang anti-Pancasila. Jika roh kehidupan ekstra kampus dikembalikan tentu akan didukung oleh para alumninya yang telah mendirikan KAHMI, Forkoma PMKRI, PA GMNI, IKA PMII, dan PNPS GMKI,” kata Taslim.



Sumber: Suara Pembaruan