PAN Tak Yakin Belva Mundur Jadi Staf Presiden Akan Hentikan Polemik

PAN Tak Yakin Belva Mundur Jadi Staf Presiden Akan Hentikan Polemik
Pendiri dan CEO Ruangguru, Adamas Belva Syah Devara saat diperkenalkan Presiden Joko Widodo sebagai staf khusus di beranda belakang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 21 November 2019. (Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao)
Markus Junianto Sihaloho / WM Rabu, 22 April 2020 | 12:15 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Saleh Partaonan Daulay menyatakan, fraksinya mengapresiasi keputusan mundurnya Adamas Belva Devara sebagai staf khusus kepresidenan. Namun demikian, Saleh menyatakan dirinya tak yakin pengunduran diri itu akan menghentikan polemik yang ada.

Sebab, perusahaan milik Belva, Ruangguru, masih tetap menjadi mitra pelatihan program Kartu Prakerja.

"Padahal itu yang sebenarnya menjadi inti utama polemik," kata Saleh, Rabu (22/4/2020).

Menurut Saleh, menilik dari isi surat terbuka yang disampaikan Belva, alasan pengunduran dirinya lebih pada menghindari asumsi atau persepsi yang bervariasi tentang posisinya sebagai staf khusus presiden. Di dalam surat pengunduran diri itu dijelaskan ada kaitannya dengan proses verifikasi mitra kartu prakerja. Di luar itu, isi surat lebih pada ucapan terima kasih kepada Presiden Jokowi yang telah memberikan kesempatan kepadanya sebagai staf khusus presiden.

Bagi Saleh, polemik yang ada sebenarnya muncul sebagai respons terhadap pemilihan Ruangguru yang ditunjuk sebagai mitra pelaksana kartu prakerja.

"Sebetulnya semua biasa saja. Ini dianggap luar biasa karena Adamas SBD adalah CEO Ruangguru. Orang menganggap itu tidak pantas. Ada kesan bahwa penunjukkan perusahaannya itu tidak objektif. Dan menurut saya kesan itu wajar," kata Saleh.

Karena itu, Saleh mengatakan, Belva harusnya memahami inti permasalahan soal penunjukkan Ruangguru sebagai mitra Kartu Prakerja tersebut. Daripada mengundurkan diri, seharusnya dia menjelaskan keterlibatan perusahaannya di Program Kartu Prakerja secara terbuka.

"Bukankah sebaiknya proses keterlibatan perusahaannya saja yang dijelaskan secara terbuka? Dengan begitu, semua orang menilai bahwa itu wajar. Karenanya, tidak perlu dipersoalkan," kata Saleh.

"Kalau mundur seperti ini, bisa jadi orang malah menyangka bahwa ada sesuatu yang tidak wajar. Bahkan, ketidakwajaran itu ditunjukkan oleh sikap Adamas Belva sendiri. Buktinya tidak wajar apa? Ya dia mengundurkan diri. Kalau semua sesuai aturan, kan tidak perlu mengundurkan diri. Apalagi, dia mengatakan bahwa keputusan mengundurkan diri itu adalah keputusan yang berat," kata Saleh.



Sumber: BeritaSatu.com