Tak Satu pun Negara Bisa Sendirian Atasi Covid-19

Tak Satu pun Negara Bisa Sendirian Atasi Covid-19
Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri RI Febrian Alphyanto Ruddyard saat menyampaikan paparan dalam Webinar hari Kamis (30/4/2020). (Foto: Beritasatu.com / Natasa Christy)
Natasia Christy Wahyuni / EHD Sabtu, 30 Mei 2020 | 21:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Krisis akibat pandemi virus corona (Covid-19) berbeda dengan krisis yang pernah terjadi di dunia sebelumnya karena menyeret hampir seluruh negara. Situasi keterhubungan antarnegara, yang juga sebagai penyebab meluasnya virus, membuat tidak satu pun negara mampu keluar sendiri dari krisis Covid-19.

“Kita saat ini mengalami situasi pandemi dalam skala luar biasa, unprecedented (belum pernah terjadi sebelumnya),” kata Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri RI Febrian Alphyanto Ruddyard dalam webinar bertajuk “Diplomasi Multilateral Indonesia di tengah Covid-19”, Kamis (30/4/2020).

Febrian membandingkan pandemi Covid-19 dengan wabah sebelumnya dalam sejarah umat manusia. Misalnya, Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) atau Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) yang hanya menyentuh sebagian kecil negara. Hal serupa juga terjadi saat wabah Spanish Flu pada 1918 dimana jumlah orang masih relatif sedikit dan ketergantungan antarnegara tidak semasif saat ini.

“Tidak bisa dipungkiri kita tidak bisa keluar sendiri, kita tidak bisa menghadapi krisis ini sendirian. Oleh karena itu, diplomasi multilateral semakin relevan,” ujar Febrian.

Febrian mengatakan pergerakan manusia telah membawa virus lintas negara, namun pergerakan manusia juga yang memberi nilai tambah bagi perekonomian. Dia mengakui semua negara kini menghadapi tekanan dengan situasi up to the neck (hampir tenggelam), sehingga sulit untuk membantu negara lainnya.

Febrian membandingkan dengan krisis moneter tahun 1998 dimana beberapa negara tidak terdampak sehingga bisa menjadi penolong (donor) bagi negara lain. Sebaliknya, krisis Covid-19 dialami semua negara. Itu artinya, kemampuan untuk menolong pihak lain semakin terbatas.

“Masing-masing (negara) memiliki tekanan luar biasa utk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Ini yang membedakan dengan krisis dunia internasional yang pernah terjadi sebelumnya,” katanya.

Febrian mendorong agar semua negara mengedepankan prinsip kerja sama multilateralisme dalam penanganan Covid-19. Misalnya, saat vaksin dan obat-obatan Covid-19 sudah ditemukan, negara-negara harus mampu menjamin akses setara dan berkeadilan.

“Saya tidak bisa membayangkan apabila kerja sama yang kita lakukan tidak didasarkan prinsip multilateralisme, akan ada negara lebih kuat, penduduk lebih banyak yang mendapat vaksin duluan tanpa peduli yang lain,” kata Febrian.

Febrian menambahkan masalah vaksin bisa menjadi pelik. Pasalnya, jika akses vaksin untuk negara dengan ekonomi terbelakang dinomorduakan, maka bukan tidak mungkin negara-negara itu akan menjadi episentrum baru virus Covid-19.

“Kalau hanya negara-negara yang punya uang, yang mempunyai teknologi pengembangan vaksin yang dapat, maka itu tidak akan menyelesaikan masalah karena bisa muncul lagi gelombang virus kedua, ketiga, atau keempat,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com