KPU Gunakan Alat Coblos Sekali Pakai di Pilkada 9 Desember

KPU Gunakan Alat Coblos Sekali Pakai di Pilkada 9 Desember
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menggelar simulasi proses pemungutan suara dan penghitungan suara di tempat pemungutan suara (TPS). (Foto: Beritasatu TV)
Robertus Wardi / FER Kamis, 28 Mei 2020 | 16:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menggunakan alat coblos sekali pakai dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang digelar 9 Desember 2020. Hal itu untuk menghindari penyebaran virus corona (Covid-19) pada saat pelaksanaan Pilkada.

Baca Juga: Pilkada Serentak Digelar 9 Desember

"Kami ingin menghindarkan jangan sampai berkali-kali dipakai banyak orang untuk mencoblos,” kata Ketua KPU, Arief Budiman dalam diskusi virtual (online) bertema “Antara Pandemi dan Pilkada, Harus Bagaimana?” di Jakarta, Kamis (28/5/2020).

Arief menjelaskan, selama ini alat coblos yang selalu dipakai adalah paku. Keberadaan paku di dalam tempat pemungutansuara (TPS) tidak diganti atau dipakai berulang-ulang oleh pemilih. Saat pandemi seperti sekarang, tidak mungkin paku yang dipakai berulang-ulang bisa digunakan oleh pemilih.

"Nanti kita sediakan. Mungkin seperti tusuk gigi, tapi bukan tusuk gigi. Karena kalau tusuk gigi yang dipakai, kan terlalu kecil. Nanti lubangnya engggak kelihatan," jelasnya.

Baca Juga: Tahapan Pilkada Sesuai Protokol Kesehatan

Arief menyebutkan, alat coblos tersebut bisa juga berupa sumpit makan karena lubangnya cukup besar. "Atau nanti ada model lain yang digunakan. Semuanya belum diputuskan karena harus diuji coba dan menunggu tambahan anggaran dari negara," bebernya.

Selain alat coblos, lanjut Arief, KPU juga akan mengubah pola penggunaan tinta cap bagi pemilih. Model celup jari tangan pada satu botol tinta yang sama secara berulang-ulang oleh pemilih, tidak mungkin akan dilakukan pada situasi pandemi seperti sekarang.

"KPU sedang memikirkan dengan dua alternatif. Pertama, tinta akan diteteskan ataupun disemprotkan dengan alat serupa hand sanitizer oleh para petugas. Kan sekarang kemana-mana, kita kalau pergi itu ada hand sanitizer yang dipencet itu. Jadi pemilih keluar, kemudian tangannya ditaruh dibawah alat nanti dipencet oleh petugas," tutur Arief.

Baca Juga: KPU Bantah Ada Kebocoran Data

Kedua, berupa spray dimana nantinya tangan pemilih disemprot tinta. "Biayanya bisa lebih mahal dari yang ada. Tapi prinsipnya adalah yang dirancang single used. Bisa sekali pakai alat coblos maupun spray," ujar Arief.

Selain dua kebutuhan tersebut, Arief menambahkan, sejumlah perlengkapan lain yang harus disiapkan. Diantaranya masker, sarung tangan, hand sanitizer, thermometer suhu, dan sejumlah perlengkapan lainnya.

"Hal itu sebagai konsekuensi dari pelaksanaan Pilkada di tengah pandemi Covid 19," pungkas Arief.



Sumber: BeritaSatu.com