Sebelum Terapkan New Normal, Pemerintah Diminta Lakukan Kajian Matang

Sebelum Terapkan New Normal, Pemerintah Diminta Lakukan Kajian Matang
Prajurit TNI berjaga di loket Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Rabu, 27 Mei 2020. (Foto: Beritasatu Photo / Joanito De Saojoao)
Carlos KY Paath / YUD Kamis, 28 Mei 2020 | 19:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah harus benar-benar melakukan kajian yang matang soal skenario new normal. Begitu juga dampak new normal terhadap kesehatan masyarakat dan perekonomian. Demikian disampaikan Anggota Komisi XI DPR Anis Byarwati melalui keterangan, Kamis (28/5/2020).

Baca juga: New Normal, Penumpang KRL Dilarang Berbicara dan Menelpon

Menurut Anis jangan sampai tujuan new normal malah seperti jauh panggang dari api. "Jangan sampai pemberlakuan kebijakan new normal membuat jumlah kasus justru makin bertambah dan membuat pemulihan ekonomi menjadi makin lama untuk Indonesia," kata Anis.

Anis menuturkan, new normal belum semestinya diberlakukan pemerintah saat ini, karena jumlah pertambahan kasus yang masih cukup tinggi. Rata-rata 400 kasus positif virus corona bertambah setiap hari, bahkan pada 21 Mei 2020, terjadi peningkatan kasus positif corona sebanyak 973 orang.

Baca juga: Tantangan Baru New Normal untuk Wisata Minat Khusus

"Saat ini saja, PSBB (pembatasan sosial berskala besar) belum bisa dikatakan efektif, masih banyak masyarakat beraktivitas keluar rumah tanpa masker atau tanpa jaga jarak," tutur politisi Partai Keadilan Sejahtera tersebut.

Anis juga menyoroti kesiapan pemerintah dalam menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai. Dengan kurva yang masih naik dan aktivitas masyarakat akan kembali dibuka, kemungkinan penambahan pasien positif dalam jumlah besar akan sangat nyata.

"Jika pemerintah memaksakan diri menerapkan new normal, menurut saya justru akan mengkhawatirkan. Sebab, peningkatan aktivitas masyarakat akibat kebijakan itu bisa berpotensi menambah jumlah kasus virus corona di dalam negeri," imbuh Anis.

Baca juga: Pengembang Siap Laksanakan New Normal

Selain itu, menurut Anis, ketika new normal diberlakukan secara efektif pun, daya angkat industri terhadap perekonomian tidak akan sama dan sekuat ketika sebelum pandemi.

Hal ini karena new normal diberlakukan dengan protokol kesehatan yang ketat, di mana physical distancing tetap dilakukan. Para pekerja yang berusia di atas 45 tahun juga tidak bisa masuk kerja. "Faktor ini akan mempengaruhi struktur pekerja di perusahaan-perusahaan," tandas Anis.



Sumber: BeritaSatu.com