Krakatau Steel Membukukan Keuntungan, Inefisiensi Dinilai Masalah Terbesar BUMN

Krakatau Steel Membukukan Keuntungan, Inefisiensi Dinilai Masalah Terbesar BUMN
Pipa baja PT Krakatau Steel Tbk. (Foto: Istimewa)
Carlos KY Paath / WM Jumat, 29 Mei 2020 | 17:38 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Komisi VI DPR, Deddy Yevri Sitorus, mengapresiasi PT Krakatau Steel yang berhasil membukukan laba sesuai laporan keuangan yang diaudit auditor PWC. Ini sebuah kemajuan yang menggembirakan setelah bertahun-tahun kita mendapat kabar buruk soal Krakatau Steel, bahkan diisukan akan bangkrut.

Sebagaimana diketahui, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk berhasil meraih laba bersih sebesar US$ 74,1 juta pada kuartal I tahun 2020. Emiten berkode KRAS ini akhirnya mencatat laba dalam 8 tahun terakhir. Perbaikan kinerja perusahaan di kuartal I tahun 2020 terutama disebabkan penurunan beban pokok pendapatan sebesar 39,8% dan penurunan biaya administrasi dan umum sebesar 41,5%.

“Sudah lama diketahui bahwa selain keputusan investasi bisnis yang salah beberapa tahun lalu, inefisiensi bahkan mungkin penggarongan adalah penyakit yang paling akut dari PT Krakatau Steel,” kata Deddy, Jumat (29/5/2020).

“Karena itu tidak mengherankan ketika manajemen berhasil menekan biaya opex (operating expenses) induk sebesar 31% YoY dan optimalisasi tenaga kerja meningkat sebesar 43%, perseroan berhasil melakukan penghematan biaya sebesar US$ 130 juta pada kuartal I tahun 2020,” sambung Deddy.

Menurut anggota DPR dari Daerah Pemilihan Kalimantan Utara ini, manajemen Krakatau Steel belum saatnya berpuas diri sebab tantangan internal dan eksternal yang dihadapi masih cukup besar. Oleh karena itu, Deddy menyarankan manajemen

Krakatau Steel dan Kementerian BUMN bekerja sama memanfaatkan momentum ini untuk melakukan restrukturisasi bisnis secara menyeluruh.

“Banyak anak perusahaan yang tidak sesuai core bisnis dan menjadi beban harus dilikuidasi atau dikerjasamakan untuk mengurangi beban dan memaksimalkan energi pada fokus bisnis Krakatau Steel. Perlu di-review kembali semua strategi bisnis, kemitraan investasi dan value creation dari bisnis Krakatau Steel,” ujar Deddy.

Deddy berharap agar Kementerian BUMN menerapkan model efisiensi Krakatau Steel ini di berbagai BUMN lain. Masalah semua BUMN itu hampir sama, inefisiensi bisnis yang akut dan fokus serta strategi bisnis yang tidak jelas.

“Saya yakin Pak Erick Tohir sebagai Menteri BUMN memahami dan sudah mulai mengerjakan ini,” kata Deddy.

“Saya berharap beliau memimpin restrukturisasi bisnis besar-besaran di BUMN seperti Pertamina, PLN, Telkom, BUMN Karya dan Himbara secara profesional, market base dan bukan dengan PMN,” ucap Deddy lagi.

Dengan demikian, kata Deddy, PMN dapat difokuskan pada BUMN pangan seperti PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), PT Berdikari (Persero), Garam (Persero), PT Perikanan Nusantara (Persero), PT Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Persero), PT Bhanda Ghara Reksa (Persero), PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero), PT Sang Hyang Seri (Persero), dan PT Pertani (Persero).

“Selain cluster pangan, Kementerian BUMN harus memberikan perhatian kepada cluster industri strategis. Ini penting untuk mengurangi impor di bidang-bidang strategis dan berpengaruh terhadap ketahanan nasional,” demikian Deddy



Sumber: BeritaSatu.com