Pancasila Representasi Kebersamaan di Segala Zaman

Pancasila Representasi Kebersamaan di Segala Zaman
BNI memperingati Hari Lahir Pancasila melalui layar LED Gedung Menara BNI di Jakarta, Senin, 1 Juni 2020. (Foto: Beritasatu Photo/Istimewa)
Yeremia Sukoyo / EAS Senin, 1 Juni 2020 | 13:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Pancasila dilahirkan dalam sebuah momen paling monumental dalam sejarah Indonesia. Pancasila pun disebut dalam sebuah forum yang cukup merepresentasikan kebersamaan seluruh elemen bangsa di Tanah Air.

Selama ini nilai-nilai yang dikandung Pancasila mewakili pandangan paling dalam dari seluruh elemen bangsa. Melalui pengukuhan dalam konstitusi negara, Pancasila kemudian menjadi nilai dasar dan kesepakatan bersama di awal berdirinya Republik Indonesia.

Pancasila juga hidup seiring perjalanan dan dialektika Indonesia dengan berbagai respons yang bermunculan. Mulai dari keraguan, kesalahpahaman, hingga distorsi, datang silih berganti. Namun dalam kenyataannya, Pancasila tetap teguh menjadi perekat utama Indonesia.

Menanggapi haal tersebut politisi Partai Nasdem, Willy Aditya menyakini Pancasila mampu berdialektika di segala zaman dan tantangan. Pancasila adalah falsafah yang luwes diambil dari sari pati berbagai kebudayaan Nusantara sejak ribuan tahun yang lalu.

"Modalitas utama yang kita miliki dari Pancasila adalah gotong royong sebagai esensinya. Manifestasi gotong royong ini adalah dialog, ada musyawarah untuk mufakat, kerja sama, yang bisa menjadi modalitas utama kita dalam upaya melanjutkan eksistensi negara bangsa yang berpancasila," kata Willy, di Jakarta, Senin (1/6/2020).

Wakil Ketua Fraksi Partai Nasdem itu menilai, alam kehidupan politik nasional saat ini harus mengarusutamakan semangat gotong royong tersebut. Berbagai kebijakan yang dirumuskan oleh pemerintah maupun DPR harus mengedepankan dialog.

"Dialog dengan semua pemangku kepentingan. Semangat ini harus menjadi mainstream dalam berbagai produk perundangan maupun kebijakan kita," ujarnya.

Dengan demikian, Pancasila sebagai sebuah bintang penuntun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan benar-benar bisa termanifestasikan. Apalagi politik sama sekali tidak identik dengan gontok-gontokan atau keinginan untuk menang sendiri.

"Inilah keseimbangan yang ingin dibangun oleh Pancasila dalam menjalankan negara. Pancasila bukan hanya klaim sepihak atau segolongan semata-mata tetapi representasi kesepakatan bersama dan sari pati dari relasi sosiokultural serta yang paling penting adalah common dream semua anak bangsa," ujarnya.

Bagi Willy, ini semua menjadi upaya baru dalam korespondensi Pancasila sebagai nilai dasar dengan tantangan barunya. Terlebih tantangan zaman sudah semakin kompleks.

"Jika kita meninggalkan semangat yang paling utama dari Pancasila, gotong royong, maka kita akan semakin rapuh sebagai sebuah bangsa. Gotong royong ini harus kita hidupkan lewat berbagai manifestasinya," ungkapnya.



Sumber: BeritaSatu.com