Puan Maharani: Indonesia Butuh Gotong Royong Berskala Besar

Puan Maharani: Indonesia Butuh Gotong Royong Berskala Besar
Ketua DPR RI Puan Maharani membacakan naskah Pembukaan UUD 1945 dari kediamannya di kawasan Kuningan,Jakarta Selatan pada peringatan Hari Lahir Pancasila secara virtual, Senin, 1 Juni 2020. (Foto: Istimewa)
Jeis Montesori / JEM Senin, 1 Juni 2020 | 15:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua DPR RI Puan Maharani,  mengikuti upacara Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2020 secara virtual dari rumah dinas di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Dalam kesempatan itu, Puan Maharani bertugas membacakan naskah Pembukaan UUD 1945 sebagai bagian dari rangkaian upacara yang diikuti Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan seluruh pimpinan lembaga negara.

Puan Maharani mengatakan, pada 75 tahun yang lalu,  tepatnya tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno berpidato di depan Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Di dalam pidatonya tersebut, Bung Karno memperkenalkan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara kita Indonesia.

"Itulah sebabnya mengapa tanggal 1 Juni dinyatakan sebagai Hari Lahir Pancasila," kata Puan Maharani.

Puan Maharani menjelaskan, Bung Karno di dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945 menyatakan bahwa intisari dari Pancasila adalah gotong royong.

Gotong royong dijelaskan Soekarno sebagai suatu paham yang dinamis, lebih dinamis dari kekeluargaan. Gotong royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan. Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama.

Bung Karno menyatakan bahwa amal semua buat kepentingan bersama, keringat bersama buat kebahagiaan bersama.
"Ho lopis kuntul baris buat kepentingan bersama. Itulah gotong royong. Gotong royong adalah jiwa bangsa Indonesia, jiwa persaudaraan, jiwa kekeluargaan, jiwa kerja bersama," kata Puan Maharani.

Saat ini, lanjut Puan Maharani, kita bersama sedang menghadapi pandemi Covid-19 yang telah berdampak pada aspek kesehatan dan juga telah melumpuhkan seluruh aktivitas masyarakat di bidang sosial, ekonomi, budaya, hingga kegiatan bersama keagamaan.

Penanggulangan pandemi Covid-19 membutuhkan kerja bersama, gotong royong dari semua komponen bangsa, baik itu pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat.

"Alhamdulillah, dalam menghadapi pandemi Covid-19, saya melihat jiwa gotong royong yang terpancar di tengah rakyat Indonesia," kata Puan Maharani.

Seperti yang terjadi di Cimahi, Jawa Barat, kata Puan, ada satu daerah yang antartetangganya rukun membantu menyediakan makanan untuk salah satu warganya yang sedang menjalani isolasi mandiri karena dinyatakan positif terjangkit corona.

"Lalu ada di Desa Jambanan, Sragen saya melihat beritanya ketika salah satu warga desa pulang ke rumah setelah dinyatakan sembuh dari virus corona, para warga desa menyambutnya dengan meriah sudah seperti acara syukuran," ujar Puan Maharani.

Puan Maharani mengatakan, di daerah pemilihannya saat pemilu legislatif meliputi Solo, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, juga banyak terjadi antarwarga saling membantu bersama-sama menghadapi dampak sosial ekonomi dari pandemi Covid-19.

Memang untuk melawan Covid-19, kita jangan hanya terpaku pada istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tetapi yang Indonesia juga butuhkan saat ini adalah Gotong Royong Berskala Besar.

"Saya tekankan kembali, Indonesia saat ini butuh Gotong Royong Berskala Besar," kata fungsionaris PDI Perjuangan ini.

Sebagai bagian dari Gotong Royong Berskala Besar, kata Puan Maharani, DPR RI selama beberapa bulan terakhir memfokuskan tugas konstitusional  dalam melawan Covid-19 melalui fungsi pengawasan, fungsi anggaran, dan fungsi legislasi DPR.

Dikatakan, lebih dari 150 rapat DPR  pada masa persidangan periode 30 Maret 2020 hingga 12 Mei 2020 berkaitan dengan penanggulangan Covid-19 dan dampaknya, sebagai bagian dari menjalankan fungsi pengawasan.

DPR, kata Puan Maharani,  mengingatkan pemerintah agar tidak terburu-buru dalam melaksanakan The New Normal, agar tidak memunculkan kebingungan baru di masyarakat.

"Diperlukan pra kondisi dan protokol yang dipahami bersama dengan masyarakat, sebab rincian new normal untuk setiap jenis kegiatan dan wilayah tentu berbeda-beda," kata Puan Maharani.



Sumber: BeritaSatu.com