Bertemu Tokoh Agama, Presiden Sampaikan Kebijakan Penanganan Covid-19

Bertemu Tokoh Agama, Presiden Sampaikan Kebijakan Penanganan Covid-19
Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Foto: Dok )
Lenny Tristia Tambun / YUD Selasa, 2 Juni 2020 | 20:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar pertemuan dengan delapan tokoh lintas agama. Selain meminta masukan, Presiden Jokowi juga menyampaikan kebijakan-kebijakan pemerintah terkait penanganan virus corona (Covid-19).

“Kita sangat bersyukur bahwa masyarakat tidak panik dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini”, kata Jokowi mengawali percakapan dengan delapan tokoh lintas agama di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (2/6/2020).

Baca juga: Pandemi Covid-19, Imunisasi Anak Wajib Dijalankan

Jokowi mengatakan dalam menangani pandemi corona ini, pemerintah sangat berhati-hati . Karena itu, dalam mengumumkan informasi terkait Covid-19, pemerintah pun melakukannya dengan hati-hati pula. Sehingga tidak menimbulkan kepanikan masyarakat.

Hal itu dilakukan atas saran dari para pakar. Menurut para pakar, kepanikan masyarakat akan menurunkan 50% imunitas.

Baca juga: 9,9 Juta Warga Wuhan Dites, Tidak Ada Kasus Covid-19 Baru

“Jadi bukan pemerintah tidak serius, tapi lebih karena kehati-hatian itu. Lihat saja, bahkan negara besar seperti USA pun mengalami kerusuhan berkepanjangan,” ujar Jokowi.

Pada pertemuan yang dihadiri oleh H Helmy Faishal Zaini (PBNU), Abdul Mukti (PP Muhammadyah), KH. Muhyiddin Junaidi (MUI), Pdt. Gomar Gultom (PGI), Ignatius Kardinal Suharyo (KWI), Wisnu Tenaya (PHDI), Arief Harsono (Permabudhi) dan Xs Budi Santoso Tanuwibowo (Matakin) itu, Jokowi juga menyampaikan saat ini, alat-alat kesehatan menghadapi Covid-19 ini sudah dapat diatasi.

“Dalam masa sulit pandemi ini, ternyata akhirnya kita bisa memproduksi sendiri APD, PCR dan ventilator. Semuanya kini sudah dapat diproduksi dalam negeri,” ungkap Jokowi.

Baca juga: Masa Pandemi Covid-19, Kemperin Tetap Kawal Investasi Sektor Industri

Lebih lanjut, mantan Gubernur DKI Jakarta ini, mengatakan pada awalnya memang pemerintah kesulitan karena harus mengimpor peralatan kesehatan untuk penanganan Covid-19. Indonesia harus berebutan dengan berbagai negara lainnya untuk mendapatkan peralatan kesehatan.

Disamping itu, Jokowi menerangkan prediksi lembaga-lembaga keuangan dunia, bahwa di tengah perlambatan ekonomi dan berbagai negara mengalami minus dalam pertumbuhan ekonomi, Indonesia masih termasuk di antara tiga negara yang pertumbuhan ekonominya positif, yakni India (1,9), Tiongkok (1,2) dan Indonesia (0,5 yang sebelumnya 5 persen).

Jokowi mengungkapkan, pemerintah sedang mempersiapkan masyarakat untuk membuka kembali aktifitas perokonomian dan ibadah secara bertahap. Ada 120 kabupaten kota yang tidak ada kasus sama sekali. Daerah ini bisa berlangsung kehidupan yang normal.

Sementara untuk pembukaan kembali sekolah dan pesantren, Jokowi tegaskan belum ada keputusan apa pun yang diambil pemerintah. “Kita harus hati-hati akan nasib 54 juta siswa kita,” tegas Jokowi.

Selain itu, Jokowi menyebutkan tahun ini Indonesia tidak akan memberangkatkan haji. Otoritas Saudi Arabia belum memberikan signal apakah akan menyelenggarakan haji tahun ini. “Berhubung hal ini membutuhkan persiapan, dan waktu untuk itu sudah tidak memadai, maka kita putuskan tidak akan memberangkatkan haji tahun ini,” jelas Jokowi.

Para pimpinan agama yang hadir, pada umumnya mengapresiasi langkah-langkah yang ditempuh pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mukti mengatakan komunikasi para pejabat kepada masyarakat dapat satu irama dan tidak bertentangan satu sama lain.

“Kita di lapangan mengalami kesulitan menghadapi masyarakat kalau hal ini berlangsung terus menerus,” Abdul Mukti.

Ia menegaskan perlu ada counter narasi dari pemerintah menghadapi banyaknya penyesatan informasi di berbagai media selama pandemi ini.

Sementara Ketua Umum PGI Pdt Gomar Gultom, menekankan perlunya semua elemen masyarakat membangun dan mengembangkan disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan dan berbagai habitus baru dalam memasuki masa kenormalan baru. “Tanpa disiplin, apapun yang dikerjakan oleh pemerintah, akan sia-sia, dan masyarakat akan terus berada dalam bayang-bayang penularan Covid-19 ini,” kata Gomar Gultom.



Sumber: BeritaSatu.com