Bawaslu: Pilkada 9 Desember Berpotensi Melahirkan Malpraktik

Bawaslu: Pilkada 9 Desember Berpotensi Melahirkan Malpraktik
Ilustrasi Pilkada 2020. (Foto: SP/Muhammad Reza)
Roberth Wardhy / CAH Rabu, 3 Juni 2020 | 18:25 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengingatkan pelaksanaan Pilkada pada tanggal 9 Desember 2020 berpotensi melahirkan malpraktik pemilu. Hal itu karena keterbatasan ruang gerak dalam bekerja akibat wabah virus corona atau Covid 19.

“Situasi pandemi Covid 19 yang tak menentu, berpotensi menimbulkan malpraktik dalam penyelengarannya,” kata Koordinator Divisi Pengawasan dan Sosialisasi Bawaslu Mochamad Afifuddin di Jakarta, Rabu (3/6/2020).

Baca JugaDPR Dukung Modifikasi Tahapan Pilkada yang Libatkan Massa

Ia menjelaskan malpraktik bisa terjadi pada setiap tahapan. Dimulai dari tahapan verifikasi faktual syarat dukungan calon perseorangan. Kemudian tahapan pemutkahiran data pemilih berupa pencocokan dan penelitian (coklit). Pelaksanaan kampanye juga rawan terjadi malpraktik. Bahkan tahapan pemungutan suara juga akan terjadi praktik-praktik tersebut.

Dia menyebut penyelenggaraan Pilkada ditengah pandemi Covid 19 juga bisa menimbulkan partisipasi dan penyelenggaraan yang menurun. Hal itu berupa proses pemuktahiran data dan daftar pemilih tidak maksimal. Kemudiannya menurunya partisipasi relawan pengawas pemilu. Kesulitan lainnya adalah KPU dan Bawaslu akan sulit merekrut penyelenggara ad hoc seperti panitia pemilihan kecamatan (PPK), panitia pemungutan suara (PPS), hingga kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS). Hal itu karena masyarakat enggan menjadi petugas akibat ketakutan akan penularan Covid 19.

Baca JugaKPU Diyakini Mampu Atur Teknis Pilkada Sesuai Protokol Kesehatan

Dia mengaskan status kesehatan di daerah-daerah penyelenggaraan pemilihan menjadi salah satu variabel penting. Status itu tidak hanya berkaitan dengan kesiapan penyelenggara pemilihan dalam menjalankan keseluruhan tahapan, tapi juga relevan dengan kondisi sosial kemasyarakatan yang teracam bahaya Covid-19.

“Kondisi kesehatan masyarakat secara fisik maupun psikis akan memengaruhi tingkat kehadiran masyarakat di TPS, maupun terlibat dalam kegiatan-kegiatan lain, seperti kampnye dan tahapan-tahapan lainnya,” tutup Afif. 

 



Sumber: BeritaSatu.com